10 Mei 2018

Shania Junianatha dan Tadaima Renaichuu


29 April, setelah sekian kalinya menunda, akhirnya hari ini aku ke theater juga. Udah lama banget gak ke theater, mungkin udah satu tahun. Maklum, dari Malang ke Jakarta itu butuh biaya yang lumayan besar deh. Pengalamanku ke theater kali ini bisa dibilang agak apes... banyak sih, apesnya. Waktu itu ada yg bilang "kamu kalau ke theater jangan pas weekend. Gak tau kenapa firasatku gak enak," tapi tetap aja aku terpaksa ambil 2 show di weekend.

Sore sebelum show, aku kehujanan di jalan dan celana panjang satu-satunya yang kubawa, basah. Aku pun jadi harus beli sepatu baru malam harinya, lalu juga sibuk nyetrika celana yang basah pagi-pagi sebelum berangkat show 1 team kiii.

Hari itu aku sampai di fx jam setengah sebelas siang, entah kenapa aku gak ada canggung-canggungnya sama sekali, beda dengan pas pertama kali nonton show dulu. Begitu sampai langsung naik ke lantai empat dan ngantre penukaran tiket di lobi theater. Kayak wota sepuh aja, padahal dulu bingung-bingung sampai harus tanya-tanya orang.




Show yang pertama kutonton itu Saka Agari kepunyaan team kiii. Sementara, oshi yang pengen kulihat itu Viny dan Yupi. Sayangnya, Yupi lagi absen, aku baru ingat Yupi lagi ke bangkok sama Shani. Kupikir nggak apa deh, yang penting bisa lihat Viny. Mencoba ikhlas walaupun sebenarnya gak bisa ikhlas.

Waktu bingo, aku dapat tiket hijau dengan nomor bingo 7. Firasatku gak enak dan ternyata benar, bingo-ku dipanggil cukup akhir, aku jadi kebagian bangku yang paling belakang. Kesal pastinya, nggak bisa lihat Viny dengan leluasa. Dia pasti nggak bisa lihat aku seberapa keras pun aku teriakkan namanya.

BTW, salah satu yang kusuka dari nonton show theater itu bisa teriak-teriak nge-chan. Hal yang benar-benar seru bagiku dan gak bisa kulakuin di rumah sambil dengar lagunya. Walaupun aku nggak hafal lagu-lagu yang ada di setlist Saka Agari, tapi aku lumayan tahu kapan harus teriak nge-chan. "Oi oi oi oi!" Haha.

Pas show berlangsung, aku sering banget teriak-teriak manggil nama Viny. Pengen banget dia noleh ke arah aku, sedetik saling tukar pandang cukuplah. Sayangnya, suaraku selalu tenggelam karena aku nggak bisa teriak sekeras orang lain. Benar-benar kesal.

Akhirnya, show Saka Agari selesai dan seperti biasa, hi touch dulu sama member sebelum keluar dari aula theater. Seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu keluar paling terakhir. Begitu sampai di area hi touch, mataku langsung mencari keberadaan Viny dan auto lock. Aku jalan melewati member-member lain, tanganku tos dengan mereka, tapi pandanganku nggak bisa lepas dari Viny. Akhirnya aku sampai di hadapan Viny dan saat tangan kami bersentuhan, aku punya waktu sekitar 1,5 detik untuk menarik perhatian Viny sebelum akhirnya berlalu. Mungkin karena rasa kesal yang masih tersisa tadi dan bercampur rindu, aku memanggil namanya dengan cukup keras, berharap Viny benar-benar memperhatikanku. Setelah kupanggil namanya, aku merasa lega. "Eh.... Iya!" sedikit kaget dia menjawabnya cukup keras sambil tersenyum padaku yang sedang melewatinya. Dia melambai ke arahku saat aku sudah menjauh, masih tersenyum dengan kedua matanya yang hampir terpejam. Leganya. Mungkin bukan cuma lega, tapi aku bahagia banget, akhirnya dia bisa dengar suaraku yang memanggilnya.


Keluar dari aula theater dan sampai di lobi aku lihat udah banyak orang ngantre untuk beli dan nukar tiket. Kupikir iya juga sih, setelah show satu langsung bisa antre tiket show selanjutnya, show Tadaima Renaichuu kepunyaan team J. Kalau setlist yang ini aku tahu semua lagu-lagunya, bahkan ada beberapa lagu favoritku, mungkin show yang ini bakalan lebih seru dari show sebelumnya, lagian ada 2 Oshi-ku di team j, Shania dan Michelle. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menukar tiket biar nanti gak perlu ngantri lama-lama karena semakin ramai. Setelahnya, aku sempatin diri buat datangi booth merchandise JKT48 buat tanya perihal 2shoot. Ternyata gak ada sesi 2shoot hari ini. Aku juga baru ingat, nanti jam tujuh malam ada dircect selling music card download Tadaima Renaichuu, mungkin karena itu sesi 2shoot ditiadakan. Ah, padahal udah mengiming-imingkan dari jauh-jauh hari buat bisa foto sama Shania.

Tiket udah ditukar dan aku pun langsung turun ke lantai satu buat cari cafe buat minum dan ngerokok. Sambil jalan aku buka twitter, Michelle ngasih kabar, katanya dia nggak ikut show hari ini. Aduh, lagi-lagi ada oshi yang absen. Tapi ya udahlah, mungkin Michelle masih belum sehat, beberapa hari yang lalu dia diopname, nggak tahu sakit apa.
Mencoba melupakan perihal Michelle, aku pun masuk ke salah satu cafe yang sepi gak ada pelanggannya, aku suka tempat yang sepi begini, rasanya lebih tenang. Waktu mau pesan sesuatu di lobi pemesanan, aku sadar ada perempuan di belakangku yang baru masuk cafe juga. Sempat kaget karena aku kenal dia, Lidya, member team kiii yang tadi juga ikut show. Ini ya, yang namanya demachi. Kaget, senang, panik, semunya jadi satu.

Gak pakai mikir lama, kuputuskan untuk batal memesan seauatu di cafe itu, aku pergi aja. Aku gak mungkin ada di cafe yang sama dengan Lidya, apa lagi kalau duduknya berdekatan. Aku pasti noleh ke dia terus dan dia bisa ngerasa keganggu. Walaupun aku kenal dia sebagai idol, tapi dia tetap cewek biasa kalau lagi di luar kayak gini.

Aku pun pindah ke cafe lain yang gak jauh dari situ, harganya relatif lebih mahal dan aku sebelumnya memang menghindari tempat ini. Terpaksalah, lagian tempatnya nyaman kok, tempatnya di luar lantai dua semacam balkon. Di sini sepi juga, aku sendirian duduk di agak tepi. Dari sini aku masih bisa lihat Lidya yang duduk di cafe bawah sana. Lucu juga lihat dia, sendirian main hp sambil ketawa-ketawa. Karena jarang-jarang demachi sama member, aku jadi ambil foto diam-diam, tapi kalau di belakangku ada orang, aku gak mungkin ambil foto, sih.




Sambil ngerokok, mataku keliaran sana-sini, lalu gak sengaja liat seseorang yang lain. "Cie elah, Naomi," kataku pas liat Naomi keluar dari fx, pasti lagi nunggu jemputan. Berselang beberapa detik kemudian muncul juga Okta, Natali dan... oh my God, itu Viny!
Wkwkwk. Rasanya dapat bonus gitu waktu lihat Viny. Kirain yang tadi di theater itu terakhir kalinya aku bisa lihat Viny.




Waktunya show 2, Tadaima Renaichuu, ketemu Shania tanpa Michelle. Show yang ini jauh lebih ramai dari pada show yang tadi, syukurnya aku udah tukar tiket dan cuma nunggu bingo. Sambil nunggu, mataku keliaran ke sana ke mari. Ada spot yang pengen banget kujadiin tempat foto, tapi nggak ada teman yang fotoin, kalau selfie pasti keliatan norak. Peduli amat deh dengan semuanya, aku yakin mukaku juga lagi gak mau diajak selfie. Akhirnya aku selfie di depan neon box Tadaiama Renaichu. Mukaku keliatan jelek, tapi aku suka fotonya. Cukuplah buat jadi kenang-kenangan dan disimpan sendiri.



Waktunya bingo, setelah pemegang tiket biru dipanggil, kini giliranku yang megang tiket hijau. Ternyata, lagi-lagi aku apes... dari 18 nomor bingo yang ada, nomor bingo-ku dipanggil nomor tiga dari belakang. Lagi-lagi aku nggak bisa duduk di kursi row depan. Aku duduk di posisi dan kursi yang sama dengan show sebelumnya. Aku ingat betul kursi yang kududuki, salah satu kakinya pendek dan kursinya benar-benar goyang. Ini benar-benar posisi yang nggak strategis. Rasanya nyesal, padahal tadi sempat kepikiran buat ambil jalur fans far aja, mungkin zaman sekarang masih ada pemakluman dan aku bisa disuruh masuk duluan, tapi setahu aku kalau pakai jalur itu nanti dikasi duduk di row empat. Sayangnya aku masih terlalu egis dengan berpikir, mungkin bingoku beruntung dan bisa duduk di row satu atau row dua. Jadi, kuputuskan untuk bertaruh. Ternyata... lagi-lagi keberuntungan mengkhianatiku.

Show dua dimulai dengan pembacaan speech atau apalah itu namanya, dibawakan oleh Rachel. Setelahnya... seperti biasa show dimulai dengan overture sekitar satu menit. Energiku masih banyak, sepanjang overture aku ikutan nge-chant, kebetulan aku cukup hapal chant mix-nya.

Overture selesai, suasana hening sejenak dan lampu-lampu di atas panggung tiba-tiba dimatikan. Remang-remang, dari sisi kanan dan kiri panggung member mulai keluar. Mataku langsung terfokus ke orang kedua yang keluar dari sisi panggung sebelah kiri. Entah kenapa di tempat segelap itu aku sadar kalau itu orang yang kucari, Shania. Dia kelihatan lebih cantik dari yang pernah kulihat sebelumnya, mungkin ini efek rindu yang udah lama numpuk.

Unit song pertama Tadaima Renaichuu dimulai, aku gak bersuara, benar-benar dibuat tertegun dengan apa yang sedang kupandangi. Entah kenapa rasa rindu yang selama ini kupendam, akhirnya meluap begitu melihat Shania ada di depan mata. Dia menari sambil tersenyum, pemandangan yang udah lama gak kulihat.

Setelah kedua show selesai, rasanya aku lega. Lega karena bisa ketemu Viny dan Shania lagi... ya, walaupun gak dengan Yupi dan Michelle. Walaupun cuma bisa lihat Shania dari jarak yang jauh, aku merasa cukup puas.




Kalau kucoba ingat-ingat lagi, kapanpun aku ketemu Shania, dia selalu nambah energi positif di dalam diriku. Dia selalu senyum, diajak ngobrolin apapun nyambung. Ngobrol sama Shania itu bikin aku sesaat lupa kalau dia itu idolaku, dia benar-benar menghilangkan jarak sosial di antara kami. Setelah bertemu, pasti rasanya bahagia banget, sampai-sampai beban hidup yang sering membuatku resah jadi hilang.

Meskipun cuma ada Shania, aku benar-benar menikmati show ini. Terakhir kali aku ketemu dia waktu hi touch pun dia menyambutku dengan hangat. Kupanggil namanya pelan. "Iya... datang lagi, ya," jawabnya sambil melambai padaku. Sepertinya, gak ada member yang lebih hebat dari Shania dalam membuatku bahagia.

Setelah berlalu beberapa hari seperti ini pun ingatan tentang dia banyak yang masih terekam jelas. Kalau sekarang dipikir-pikir lagi... aku jatuh cinta dengan Shania lebih dari yang selama ini kusadari. Sebelumnya aku menganggap perasaanku itu cuma rasa sayang biasa terhadap member. Tapi ternyata rasa sayang yang sebelumnya kuanggap remeh, sekarang malah menggigitku... lucunya.

Sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku pikir aku bakalan rela kalau pertemuan yang akan kuhadapi ini adalah yang terakhir, tapi begitu aku melihat Shania aku langsung berpikir aku masih ingin melihatnya lagi suatu hari nanti. Tanpa banyak kusadari, bertemu Shania lagi malah jadi mimpiku yang selanjutnya. Terasa aneh memang, waktu lama gak ketemu rasanya rindu banget. Begitu bertemu, rindu yang kupendam sendiri itu tiba-tiba lenyap dan aku selalu menemukan alasan lain untuk merindukannya kembali.