11 November 2014

Laki-laki Graystyle




Graystyle... Ya, begitulah yang ku lihat pada diriku sendiri. Kehidupanku hanyalah sebuah lembaran HVS yang diprint dokumen dengan tinta hitam putih. Begitu menyedihkan dan sepi. Entah kenapa aku merasakan kedua hal itu. Kedua hal itu adalah perasaan yang begitu pekat menempel di dinding-dinding hatiku, seolah nggak ada warna lain selain dua warna itu.

Aku adalah seorang anak laki-laki yang sudah melewati masa pubertasnya, masa dimana seseorang mencari jati diri yang sebenarnya. Tapi di usiaku yang sudah dua puluh tahun ini aku nggak ngerasain bisa menemukan jati diriku yang sebenarnya. Perasaan seperti itu muncul ketika aku menyadari aku udah nggak sepintar dulu lagi. Semenjak aku lulus Sekolah Menengah Kejuruan pada 2013 lalu, otakku terasa mengecil. Daya tampung memori seolah nggak sebanyak yang dulu, aku mudah lupa dengan ilmu yang ku pelajari, akupun sering lama loading 
dalam mencerna suatu masalah. Beda dengan aku yang dulu, walaupun aku nggak mahir dalam matematika, tapi aku punya imajinasi yang nggak terbatas, aku mampu menciptakan banyak sesuatu yang bernilai seni tinggi. Dari sekian banyak permasalahan pada kinerja otakku, ini yang paling parah, dimana aku nggak mampu menguasai seluruh mata kuliah yang aku tempuh. Rasanya berat, ada beban yang menggantung, aku takut mengecewakan orang tua ku yang telah berusaha untuk membiayaiku sekolah. Tapi, rasa takut inilah yang nantinya akan ku jadikan motivasi untuk aku bisa maju menghadapi kegagalanku selama ini. Aku tau aku udah tertinggal jauh, tapi aku masih punya teman-teman di sini yang bersedia mengulurkan tangannya, mengeluarkan sedikit pikirannya untuk membantu aku melangkah lagi. Mereka adalah salah satu cahaya yang aku punya sekarang.