14 Mei 2014

Selingkuh yang indah memulai karma

Cinta... Itu perasaan yang pasti ada di dalam diri setiap orang. Entah itu cinta yang membahagiakan ataupun cinta yang membawa kesedihan yang mendalam. Hanya satu kata 'cinta', tapi begitu banyak cerita yang terbentuk dari satu konsep dasar perasaan ini. Berawal dari cinta monyet yang hanya terkesan iseng dan permulaan dalam mengenali apa itu cinta, sampai cinta brontosaurus yang begitu besar dan kuat.

Ya, begitu juga dengan aku... Aku punya banyak kisah percintaan yang sekarang ini bisa dibilang gagal untuk bertahan ke tahap selanjutnya yang lebih serius. Ya jelas aja, umurku masih belum dua puluh tahun, belum saatnya memikirkan tentang kekasih sejati, pendamping hidup, jodoh atau apapun sebutannya itu.

Mungkin aku seperti nggak berhak ngomongin cinta ataupun sok-sok menggurui di sini, terbilang sekarang aku ini jomblo yang hampir nggak laku. Tapi perduli setan (setan aja nggak perduli). Kali ini aku pengen cerita tentang kisah cintaku, tentang mantan pacarku yang sudah terhitung sembilan belas orang (cewek semua), tapi ya nggak semuanya aku ceritain. Aku cuma pengen cerita sesuai tema kok, 'selingkuh'.

Semenjak aku pacaran kelas dua SMP aku nggak pernah jomblo lebih dari satu minggu, dan sekarang aku jomblo udah hampir setengah tahun. Mengenaskan, nggak ada cewek yang ngelirik aku, bahkan aku dekatinpun mereka enggan padahal aku udah pakai deodoran (walaupun kadang lupa karena berangkat ngampus buru-buru). Intinya, kejombloan ini membuat aku sadar, karma itu ada dan berlaku bagi siapapun yang hidup di dunia ini.

Awalnya, aku pacaran sama cewek yang namanya Rini waktu kelas enam SD dulu dan hanya bertahan seminggu. Itu tanpa selingkuh, dan hingga akhirnya aku punya pacar lagi waktu kelas dua SMP dan pacarku tiga tahun lebih tua dari aku, Mira. Hubunganku sama Mira berjalan baik walaupun harus backstreet dari orang tua, teman-teman dan khalayak umum. Enam bulan berjalan dalam kedewasaan dan penuh pengertian hingga akhirnya kita terpaksa harus LDR. Selama itu kita jarang komunikasi, aku yang biasanya selalu dapat perhatian dan kasih sayang mulai kehausan. Hingga suatu hari aku mengenal cewek lain yang namanya Dessy, anak Sintang, waktu itu aku kelas tiga SMP dan dia kelas satu SMA. Kita pacaran dan menjalin hubungan jarak Jauh.

Dessy benar-benar pendamping kedua yang sangat perfect, dia memenuhi banyak kriteria cewek yang aku suka, terutama sifatnya yang kalem dan penurut itu yang aku suka. Mira nggak pernah tau hubunganku dengan Dessy karena kita jarang ketemu dan komunikasi. Selanjutnya, setelah berbulan-bulan, aku mulai bosan LDRan dengan Dessy. Beberapa bualan setelah itu aku mulai kenal dengan cewek baru di sekolahku yang juga tetangga baruku. Namanya Ikha, cewek kecil, mungil yang suaranya ngebass banget...

Awal kenal Ikha semua berjalan lancar, kita sering nyantai bareng di depan rumahku malam-malam sambil liatin bintang di langit. Kita sering smsan walaupun rumah kita dekat, bahkan aku sering ngirimin dia puisi-puisi yang ku buat sendiri. Keakraban berlanjut, semua respon positif yang dia berikan ke aku selama ini ngebuat aku yakin kalau dia suka sama aku. Setelah mengenalnya sangat jauh dan dalam, aku tau harus bagaimana untuk mengambil hatinya. Akhirnya aku mantapkan diri untuk mengajaknya pacaran.

Waktu itu sore hari aku telpon dia, aku bilang aku pengen ketemu dia. Sekitar jam setengah tujuh malam, aku ketemuan sama Ikha di depan rumahku. Walaupun gerimis, dia bela-belain nemuin aku. Di bawah pohon yang lumayan rimbun aku pegang kedua tangannya, "Kha, kamu pasti udah tau kalau aku suka sama kamu." Saat itu Ikha cuma diam, mungkin dia bingung harus nanggapin gimana, bahkan dia menundukkan mukanya. "Kha, aku pengen kamu jadi pacarku. Kamu mau kan?" "Gimana ya, Gi..." "Aku minta jawabannya sekarang, Kha. Aku nggak mau kamu nunda-nunda dan kehujanan terlalu lama gini..." Dengan muka yang masih malu-malu Ikha ngelepasin tangannya dari genggamanku, lalu dia mengetik sesuatu di hapenya dan menunjukkan layar hapenya yang bertuliskan 'iya'.

Semenjak hari itu, Ikha jadi pacarku yang ketiga selain Mira dan Dessy. Punya pacar tiga sekaligus itu menyenangkan, tapi was-was dan repot. Aku Harus sering-sering hapus sms dari Mira dan Dessy biar Ikha nggak tau kalau dia itu selingkuhanku. Aku harus repot cari alasan biar waktu berduaan sama Ikha, Dessy nggak nelpon atau sms. Waktu main ke rumah Mira, Mira bilang dia tau kalau aku pacaran sama Ikha, maklum temannya Mira banyak di sekitar lingkunganku. Tapi Mira nggak marah, karena dulu dia bilang aku harus cari pacar lagi biar aku nggak kesepian, tapi dengan syarat Mira tetap nomor satu dan nggak boleh ada cewek lain yang lebih ku cintai selain dia.

Hal lain, waktu itu dalam satu malam aku sms sama mereka bertiga sekaligus. Jariku benar-bemar sibuk ngetik sms. Yang satu baru di balas, udah datang sms yang lain, hingga akhirnya tragedi mengerikkan terjadi. Panggilan sayang ku sama Dessy tetap seperti biasa 'sayang', sedangkan dengan Ikha lain lagi, 'papa mama', maklum dulu masih abege labil. Nah di situlah awal maslahnya. Karena sibuk aku sampai nggak konsen dan salah nanggapin sms, ku balas sms Dessy dengan sebutan 'ma'. Kita ilustrasikan aja smsnya "aku udah makan nih, ma..." Dessy yang bingung dan mulai curiga balas "kamu salah kirim sms ya yang? Kok manggil mama? Kamu punya pacar lain?" Astaga... Aku mulai bingung dan panik, aku cek sms terkirim, pantas aja, aku salah kirim sms. Akhirnya dengan pikiran yang amburadul aku berhasil ngeles, aku balas "nggak kok yang, aku nggak salah kirim. Kamu kan calon istriku. Pacarku kan cuma kamu. Gimana? Anak kita yang di perut udah dikasih maem belum, ma?" Huh... Syukurlah, Dessy percaya-percaya aja, dia kiara aku mau gombalin dia dengan panggilan mama. Untung deh, dia itu polos banget, mudah ku kibulin, jadinya aman...

Waktu berlalu dengan banyak kisah bersama mereka bertiga, nggak terasa aku udah lulus SMP dan harus pindah ke Sintang untuk ngelanjutin sekolahku. Aku tau, setelah tinggal di Sintang nantinya aku bakalan lebih dekat lagi dengan Dessy. Aku pikir kasian Ikha yang ku tinggal, aku selingkuhin lagi, jadi sebelum aku berangkat ke Sintang aku pergi ke rumah Ikha dan bilang kalau aku pengen putus, aku punya pacar di sana dan aku nggak mau nantinya Ikha malah terbengkalai. Setelah ku jelaskan, dia terima aku putusin. Tapi seingat aku dia masuk ke dalam rumah sambil nahan air matanya.

Semenjak itu, hubungan aku dengan Ikha benar-benar renggang bahkan dia nggak mau negur aku kalau ketemu. Tapi pada akhirnya kita baikkan berkat temanku Angga yang bujukin dia biar nggak musuhan lagi. Lagian kita udah sama-sama makin dewasa Ikha pasti ngerti kalau itu cuma masa lalu yang harus di maafkan. Ya, sekarang kita udah berteman seolah dulu nggak pernah saling cinta dan saling menyakiti (sebenarnya cuma aku sih, yang nyakitin dia).

Setelah mutusin Ikha, aku tetap aja bandel. Aku pacaran sama Shasi, teman Mira, bahkan Mira manggil Shasi dengan sebutan 'kak'. Maklum Shasi lebih tua dari aku lima tahun. Entah kenapa Shasi bisa sayang sama aku yang masih anak kecil di mata orang sedewasa dia. Kalau aku sih wajar aja sayang sama dia, dia penuh kasih sayang. Sering masakkin aku sesuatu. Bahkan waktu aku kecelakaan sampai di tambal sana-sini nggak bisa jalan, dia jenguk aku, nyuapin aku makan. Hehe... namanya anak muda yang udah lama nggak disuapin sama Mira wajar dong, kalau aku sangat menikmati. Shasi tau kalau aku pacaran sama Mira, bahkan sebelum kita pacaran aku banyak curahat tentang Mira. Tapi Mira nggak tau kalau aku pacaran sama Shasi, Shasi sih ngertiin aja keadaanku dqn nggak mau juga kalau Mira nya tau.

Hal yang nggak biasa dan cuma sekali aku jumpai dalam perselingkuhan itu ngapelin dua pacar sekaligus di tempat yang sama dan waktu yang bersamaan. Mira sama Shasi kan sempat kerja di tempat yang sama. Waktu aku dalam perjalanan dari Melawi ke Sintang aku singgah ke tempat mereka kerja. Rasanya agak canggung ngobrol bertiga sama mereka. Tapi dalam hati aku cengar-cengir bisa nyium Mira di depan Shasi dan bisa pegang-pegangan tangan sama Shasi di belakang Mira. Beneran, itu pengalaman yang aneh.

Tapi hubungan aku sama Shasi cuma sekitar tiga bulan, satu bulan pertama kita dekat dan dua bulan sisanya kita LDR. Tapi beberapa minggu sesudah putus dari Shasi aku pacaran sama Yuli, cewek yang merupakan teman dekat mira dan Shasi. Yuli memang udah lama suka sama aku, suka banget. Dari pengakuannya yang paling dia suka dari aku itu kedewasaanku yang dia liat waktu aku pacaran sama Mira dulu, termasuk saat aku menyikapi Mira yang selingkuh sama abang kandungku sendiri. Ya, iseng-iseng aku pacaran sama Yuli, kebetulan aku juga lumayan suka sama dia dari dulu. Aku pacaran sama Yuli itu waktu aku udah tinggal di Sintang. Tapi aku macarin dia cuma sekitar dua bulan mungkin, maklum cuma iseng.

Selama beberapa bulan di Sintang, aku mulai bosan dengan hubunganku dengan Mira yang makin nggak jelas. Aku juga bosan berasa cuma punya pacar satu, Dessy doang. Jadinya aku pacaran lagi dengan kakak kelasku di SMK yang namanya sama dengan pacarku saat itu cuma beda penulisannya aja, Dhessy. Ow, Dhessy ini cantik, tinggi. Mukanya kayak orang arab, putih, bahkan hidungnya lebih mancung dengan aku. Kalau kissing bisa tabrakkan tuh, hidung. Tapi entah kenapa, punya pacar tigapun aku belum puas. Tepatnya 18 agustus 2010 setelah sahur di bulan ramadhan aku smsan sama Bintang, cewek yang nganggap aku abangnya dan kembarannya, alasannya sih karena dia menemukan banyak kesamaan dengan ku. Bintang itu, tempat curhat yang klop, teman becanda yang asik. Dia tau banyak tentang aku, termasuk tiga pacar yang aku punya saat itu.

Lewat sms aku coba bilang kalau aku sayang sama dia. Kalau nggak salah dia waktu itu terkejut. Apa lagi waktu aku ngajak dia pacaran. Jelas dia nolak, walaupun dia sayang aku tapi dia mana mau jadi pacar yang ke empat. Bintang mau jadi pacar aku kalau aku putusin ketiga pacar yang aku punya. Aku sih nggak mau kalah. Maklum naluri palyer seperti aku pasti bisa nemuin celah di hati cewek yang di suka. Entah bagaimana, aku nggak ingat akhirnya dia setuju untuk jadi pacarku yang keempat.

Ah, hidup terasa indah punya empat bidadari sekaligus. Tapi keindahan itu benar-benar nggak sempurna waktu Dhessi pacar yang satu sekolah dengan aku mutusin aku tanpa alasan yang jelas, maklum aku juga lumayan sayang sama cewek secantik dia. Dan nggak jauh dari situ, Mira pun benar-benar hilang dari hidupku. Tanpa kabar dan tanpa pernah pamit dengan aku dia menghilang dari peredaran. Saat keterpurukanku yang begitu dalam atas kehilangan Mira, Bintanglah pacar yang paling menguatkan aku, paling support aku untuk bangun dan nggak sedih lagi. Semenjak kehilangan Mira, aku semakin merasa Bintang dan Dessy benar-benar berharga. Tapi semakin lama, hubunganku sama Dessy juga semakin rusak, hingga akhirnya aku dan Dessy putus, cuma tersisa Bintang, pacar yang aku punya.

Dalam hati, Bintang benar-benar berharga buat aku. Tapi pada akhirnya waktu dia lulus SMP, dia harus sekolah di tempat yang nggak memungkinkan kita komunikasi sering-sering. Rasa sepi seperti dulu mulai tercipta, bahkan lebih parah. Entah kenapa disaat itu juga Dessy kembali jadi pacarku, lalu putus lagi. Dari putus dengan Dessy aku mulai akrab sama Yuni, kenalanku dulu yang merupakan teman Bintang juga. Perduli apa? Kedekatanku dengan Yuni semakin menumbuhkan rasa sayang aku ke dia. Yuni yang udah tau kalau aku pacaran sama Bintang pun nggak keberatan jadi pacarku. Lama-lama kita makin saling sayang.

Entah dari mana, Bintang tau kalau aku pacaran sama Yuni. Bintang marah banget waktu itu, tapi dia nggak minta putus. Syukurlah, aku takut kehilangan Bintang cuma karena Yuni, aku benar-benar cinta sama Bintang jauh melebihi Yuni. Bahkan aku pernah buatin lagu untuk Bintang yang judulnya satu-satunya untukku, penggalan liriknya itu "Tak kan hilang meski tubuh ini jauh jarakmu, rasa cinta ini mampu menembus ruang dan waktu. Kau masih saja tetap di hatiku meski bayang lain di sini menanti cintaku. Rasa cinta ini masih terpaku untukmu seberapapun ku menduakan cintamu. Mengertilah dia bukan untukku, dia hanya sebagian kecil dari sepiku, dan hanya kaulah satu-satunya untukku. Tak 'kan ada yang lain di hatiku."

Waktu berjalan begitu lambat tanpa banyak kehadiran sosok Bintang di depanku. Kita cuma ketemu waktu libur semester atau libur idul fitri. Sepi pun tetap ada meskipun aku punya pacar yang namanya Yuni. Tapi entah kenapa, waktu hubunganku dengan Bintang hampir menginjak dua tahun, dia malah mutusin aku tanpa alasan yang jelas. Di sini, aku mulai merasakan lagi perasaan sedih yang mendalam sama seperti aku yang dulu ditinggalkan Mira tanpa kabar apapun. Tapi, kali ini Yuni lah pacar yang benar-benar ada untuk aku. Seperti Bintang yang dulu, Yuni mampu mengangkat aku pelan-pelan dari keterpurukan. Hingga akhirnya aku bisa move on, meskipun masih ada rasa sedih dan kehilangan yang tertinggal di dalam hati.

Waktu semakin beranjak menjauh meninggalkan kisah percintaanku bersama Bintang. Sementar itu, hubunganku dengan Yuni semakin dekat, perasaan cinta yang terjalin di antara kamipun semakin kuat. Ya, Yuni telah berhasil menggantikan posisi seorang Bintang yang dulu pernah singgah di hatiku. Tapi sebesar apapun perasaanku dengan Yuni, hasratku sebagai seorang palyer yang selalu ingin mengoleksi pacar nggak bisa dihentikan. Banyak perempuan yang ku jadikan pacar sambilan saat itu, Titian, Nina, Yuni, Herni, Syafa, Rika, Yanti dan masih ada beberapa lagi.

Karena cukup banyak, maka aku cuma ceritain beberapa aja. Aku mau mulai dari Yuni yang namanya sama dengan Yuni yang lagi aku pacarin saat itu. Ya, Yuni yang kedua ini orangnya lebih tinggi dari aku beberapa cm, orangnya juga agak gemuk. Dadanya memang kecil, tapi aku benaran suka bagian pinggul dan bokongnya yang gede itu. Apa lagi Yuni ini anaknya manis, bisa di bilang cantiklah. Aku kenal Yuni dari seorang temanku, setelah kenal aku nagajakin Yuni pacaran, tapi dia nggak tau kalau aku punya pacar. Akhirnya setelah kita pacaran sekitar tiga bulan, entah dari mana dia tau aku punya pacar lain (aku lupa), kita putus. Waktu putus dia nelpon dengan nada ngomel-ngomel, sementara aku cuma jawab dengan nada santai "ya namanya juga selingkuh, ngapain bilang-bilang?". Mulai saat itu kita putus dan kembali menjalin hubungan pertemanan yang cukup baik.

Lalu, entah jarak beberapa lama, aku yang masih menjalani status berpacaran dengan Yuni mendapatkan mangsa baru, namanya Herni. Aku pacaran dengan Herni waktu aku kelas tiga SMK, saat itu masih masa-masa PRAKRIN, praktek kerja industri. Bersamaan dengan Herni, aku juga memacari cewek, yang sering di panggil penyanyi dangdut. Maklum dia memang penyanyi dangdut, aku sampai diejekin sama teman-teman, rapper pacaran sama penyanyi dangdut. Perduli amat, aku suka dia, soalnya dia cekci beutt... Tapi ya itu, Yuni tau aku pacaran sama Syafa, dia murka, aku jadi takut. Mana si Angga teman baikku juga ikut-ikutan marah. Terpaksa, tanpa dapat apa-apa dari Syafa, aku putusin dia demi kelancaran hubungan aku dengan yuni beserta pertemananku dengan Angga. Lalu Herni? Herni ya gitu, aku tetap pacaran sama dia tanpa ketahuam Yuni. Sampai akhirnya aku bosan, ku biarkan Herni terbengkalai. Aku sama Herni, sampai sekarangpun pisah tanpa pernah ada kata putus.

Flash back lagi ke masa-masa kelas  dua SMK. Waktu itu aku lagi buka fb lalu kenalan sama cewek yang namanya Nina. Nina orang Melawi, jadi sekitar seminggu setelah kita kenalan, aku ketemuan sama dia di Melawi. Wah, bejat sekali pikiranku, aku suka liat mukanya, terlebih lagi teteknya yang gede beuttt... Di hari pertama ketemu, kita udah akrab banget  kayak udah kenal dan pacaran lama.  Aku jadian sama Nina beberapa hari setelah pertemuan pertama. Aku lupa trik yang ku pakai, padahal Nina tau kalau aku pacaran sama Yuni, tapi dia tetap mau jadi pacarku. Aya-aya wae... Entah bagaimana, Yuni tau lagi aku punya pacar baru. Anehnya (seingat aku), Yuni nggak minta putus waktu itu. Allhasil, aku punya pacar dua tapi nggak terbilang selingkuh. Enak sih, tapi apes banget kalau salah satu dari mereka merajuk. Yuni merajuk, nyinggung-nyinggung Nina, gitu juga sebaliknya. Intinya aku pacaran sama Nina sekitar dua bulan, dan kalau nggak salah kita putus karena bertengkar, si Nina di tikung sama teman akrabku. Sangking kesalnya, si Angga pun sampai pengen nonjokin tu teman, aku juga gitu sih, mikir aja itu teman akrab. Lagian Angga juga bilang, ngapain kelahi cuma karena cewek kayak lonte kayak gitu!?" Bener juga kata tuh anak.

Next... Aku mau cerita lagi tentang perselingkuhan yang rumit. Rumit kenapa? Simak ajalah... Waktu itu libur panjang kelulusan SMK, aku liburan di Melawi. Beberapa bulan terakhir aku lagi akrab sama Yanti, cewek melawi yang gayanya kayak pereman, ngrokok, suka mabuk, tapi kalau lagi galau lebay banget. Bisa di bilang aku lumayan suka sama dia karena akrab. Dia juga suka banget sama aku, dia pengen pacaran tapi akunya yang nggak mau, alasanku karena aku lagi pacaran sama Yuni. Nah, lupain dulu tentang Yanti. Waktu itu bertepatan dengan Rini (mantan pacar pertamaku) pulang ke Melawi, dia kan kuliah di pontianak. Maklum, mantan lagi kangen, mau nggak mau aku harus main ke rumah dia. Eh, rupanya waktu di rumah Rini aku liat karyawan salonnya, menurutku lumayan oke, pakai hotpants, teteknya gede. Aku suka yang kayak gini. Waktu aku godain dia, si Rini rada kesal, cemburu mungkin. Tapi ujung-ujungnya dia juga yang ngasi no tuh cewek. Setelah kenalan, aku tau namanya Rika. Beh, sumpe, jatuh cinta juga aku sama dia. Maklum hati lagi kosong gara-gara hubungan sama Yuni renggang.

Karena terlalu serius pedekate sama Rika, aku jadi terbengkalaikan Yuni, dan akhirnya kita putus. Pagi putus sama Yuni, malamnya aku jadian Sama Rika. Pacaran sama Rika itu enak nggak enak. Enak bisa diapelin tiap hari, nggak enak karena ngapelin dia yang sambil ngurusin pelanggan salon yang datang. Oh iya, Yanti yang tau aku pacaran sama Rika. Yanti marah banget, soalnya dia kenal dan nggak suka sama Rika, selain itu aku juga pernah bilang aku mau pacarin Yanti kalau aku putus dari Yuni. Tuh kan, aku jadi galau, aku sayang sama Rika, aku suka dan punya janji sama Yanti. Akhirnya aku harus putusin Rika demi Yanti. Rika jadi marah sama aku. Dia mikir aku nggak pernah cinta sama dia.

Lupain Rika, fokus ke Yanti. Yanti itu aneh, mau jadian aja pakai request. "Gi, aku maunya kamu kasi aku hadiah, aku mau kita jadian di tanggal yang bagus." Kebetulan waktu itu tanggal 31 entah bulan apa, besoknya tanggal 1 aku ngajakin Yanti pacaran. Malah girang dia, aneh banget.

Waktu pacaran sama Yanti, aku akrab lagi sama Yuni. Waktu jalan sama Yuni, aku di liatin sama adeknya Yanti, eh nglapor tuh anak. Yanti marah, tapi aku cuek aja. Akhirnya kita putus, Yantinya galau pengen balikan sampai nyayat tangan. Kalau nggak salah karena iba, aku tanggepin permintaanya yang pengen balikan. Tapi gimana ya, karena terlalu sayang sama Yuni aku mohon-mohon minta balikan, Yuni yant waktu itu punya pacarpun nerima aku lagi. Kita jadi sama-sama punya pacar dua deh.

Hubungan aku dengan Yanti nggak bertahan lama, kita putus dan aku pindah ke kota Malang, jawa timur. Di sini, aku kenal cewek Yang namanya Yuni, aku pedekatean sama tuh cewek. Sampai-sampai aku putusin Yuni pacarku demi ngedapetin tuh cewek yang namanya juga Yuni (kebetulan selama di Malang, hubunganku dengan Yuni pacarku banyak masalah).

Beberapa saat sebelum mutusin Yuni pacarku, aku sadar akan dua hal. Pertama, aku nggak mungkin bisa dapetin Yuni yang ini. Kedua, suatu saat aku pasti nyesal karena mutusin Yuni pacarku. Ternyata benar, aku nggak bisa dapatin Yuni yang ini seberapapun aku berusaha. Dan sekarang aku nyesal karena mutusin Yuni pacarku, aku selalu kangen dia, aku masih benar-benar sayang sama dia.

Oke, aku akhiri cerita panjangku kali ini. Intinya, aku cuma pengen kalian tahu, karma itu ada. Sayangilah apa yang kamu miliki, jangan pernah terobsesi dengan hal yang seharusnya nggak kamu miliki.

Bye... se you next post...
Keep clam and read my writing