16 Mei 2014

Saat sebelah sayap patah










Saat sebelah sayap patah, siapa yang bisa menjadi angin yang mampu menerbangkan sebelah sayap ini? Saat ini aku hanya bisa terdiam meratapi dinginnya sepi ketika aku terpuruk di atas kubangan es. Tak ada siapapun yang bisa ku lihat di sini, dan tak ada yang ingin melihatku di tengah lautan es ini.

Entah kapan sebelah sayapku yang patah ini akan tumbuh dan terkembang kembali membawaku terbang mengitari dunia yang dipenuhi cinta. Dalam perhentianku ini, tak ada lagi sesuatu yang bisa membuat kehidupanku menjadi riuh. Tak ada alas tempatku terduduk, tak ada api unggun yang bisa menghatkan tubuh ini. Aku hanya bisa menatap wajahku sendiri di pantulan air yang riak, gambaran kasat yang memberitahukanku betapa menyedihkannya diriku yang tak bisa terbang ini.

Kehampaan yang bercampur dengan dinginnya sepi ini benar-benar merantai ketidak berdayaanku. Seberapa jauhpun aku memandang, tak ada tempat yang terlihat oleh mata yang bisa ku singgahi. Di atas ombang-ambing bongkahan es yang terus terhanyut, sesekali aku melemparkan serpihan es yang beku ke lautan air dingin ini. Tapi apa yang terdengar hanyalah bunyi percikan air. Tak seperti apa yang ku inginkan, aku berharap serpihan es yang ku lempar bisa menciptakan suara yang berbeda. Suara serpihan es yang terpecah membentur daratan.

Sampai kapan aku harus berada di sini? Di tempat yang tak ada seorangpun tahu. Aku ingin berhenti di tempat yang berpenghuni agar aku tak lagi bertemankan sepi seperti ini. Atau setidaknya, aku ingin sayap patahku kembali tumbuh agar aku bisa terbang ke manapun aku mau bersama angin yang bertiup menyeimbangkan sayapku.