3 Mei 2014

Open Diary Part 04

Masih Ada Jalan Keluar


Hari ini kuliah siang, tapi aku nggak datang karena aku nggak bangun tepat waktu. Padahal alaram udah ku nyalain, tetap aja aku nggak bangun. Sebenarnya sih, aku harus masuk karena ada janji sama Hafsah dan Sabrina buat ngebahas flashdisk yang hilang.
Waktu aku bangun sekitar jam tiga, masuk sms dari Hafsah, dia minta aku datang ke warung ijo. Sesampainya di sana, anak-anak lagi pada makan, termasuk Sabrina. Aku duduk dan ngeluarin rokok djarum super, langsung aja tuh, diserobot sama Alvin.
Sabrina selesai makan, aku disuruh pindah, duduk di depan Sabrina.
"Jadi gini, aku udah dengar ceritanya dari kalian berdua. Di sini aku coba buat nengahin, aku berusaha nggak mihak sama siapapun. Mohon maaf kalau aku sebagai penengah masih berat sebelah." Hafsah memulai pembicaraan. "Dimana kemarin si Panca minta tolong aku. Mungkin aku bisa bantu kasi pandangan siapa yang salah." belum selesai Hafsah ngomong, aku udah memotongnya. "Sebenarnya, aku bukan pengen cari tau siapa yang salah, aku pengen cari jalan keluar yang terbaik dari masalah ini." "Ya, bisa di bilang begitu, kita cari jalan keluarnya sama-sama. Cerita yang aku dengar dari kedua pihak. Malam kemarin si Yuni minta editkan foto, sama kamu Panca. Si Yuyun colokin flashdisk dengan seijin kamu kan?" "Ya.. Bisa di bilang aku mengiyakannya. Dan dia sendiri yang colokin flashdisk tanpa aku sentuh sedikitpun. Lalu, setelah selesai, kita sama-sama lupa. Sabrina lupa cabut, dan aku juga lupa nggak ngingatkan Sabrina." aku mencoba jelaskan lagi apa yang terjadi.
Sejauh ini, Sabrina cuma diam, nggak banyak ngomong apa-apa. "Jadi, Yun. Kemarin kan, kalian sudah coba tanya sama server, tapi memang nggak ada orang server yang nemukan. Berarti yang menemukan ini, mahasiswa yang pakai lab setelah kita. Mohon maaf ya, kamu pasang pengumumanpun persentase flashdisk itu kembali cuma 20%. Karena menurut yang aku tahu, kalau orang nemukan flashdisk ya dia bakalan ngerasa itu jadi hak dia." "Tapi ada data penting di dalamnya. Ada tiga folder yang nggak boleh sampai hilang." tutur sabrina di sela pembicaraan Hafsah. "Ya oke, yang namanya orang nemuin flashdisk, mereka nggak perduli dengan datanya, pasti langsung di delete atau di format. Jadi, kemungkinan falshdisk itu kembali dengan data yang masih utuh itu sangat kecil." Pembicaraan bertiga dengan hafsah berlangsung panjang. Sabrina sempat bilang, flashdisk itu dia beli dengan uangnya sendiri, tapi bukan itu masalahnya, yang jadi masalah itu data yang ada di dalamnya. Apa yang di sampaikan Hafsah pun lebih cenderung ngasi motifasi biar Sabrina bisa ikhlas sambil cari jalan keluar yang lain. Tapi ada satu hal yang ngebuat aku ngerasa bersalah. Aku yang dari awal kenal Sabrina selalu mencoba buat Sabrina nggak nangis, aku yang nggak mau liat Sabrina meneteskan air mata, sekarang akulah yang buat dia menangis meneteskan air mata. Saat itu terjadi, aku benar-benar menghujat diriku sendiri. Betapa bodohnya aku ngebiarin semua ini terjadi. Aku berharap aku bisa memperbaikinya.
"Sab, aku minta maaf kalau semua ini terjadi. Aku berusaha tanggung jawab, Insya Allah flashdisknya aku bisa ganti secepatnya. Dan, walaupun aku nggak bisa ngembaliin data yang hilang, aku coba tanggung jawab bantu kamu nemuin flashdsknya lagi." Sabrina terdiam, nggak ada jawab apa-apa. Aku nggak sanggup liat sabrina nangis, aku keluar dan nyalain rokok. Hafsah punya ide buat tanya ke server, setelah kita pakai lab, kelas mana yang pakai setelah itu. Mungkin kita bisa dapat jawaban dari situ. Dan aku memutuskan aku pergi cari informasi sendiri, biar sabrina langsung pulang aja.
Akhirnya, semua memutuskan untuk pulang, sebelum pulang Hafsah ada bilang "Panca, usaha ya. Mungkin dari sini kita bisa dapat informasi. Nggak apa kalau kamu sendirian yang berangkat. Anggap aja ini sebagai permintaan maaf mu karena kemarin sore kamu terlambat ke kampus waktu si Yuni nanya ke server. Ya, mungkin sekarang dia bisa bilang maafin kamu. Tapi maaf dalam bentuk kata-kata belum tentu memaafkan secara sikap. Bisa di bilang, kamu nggak salah, tapi apa salahnya sih bertanggung jawab. Ini jalan buat kamu, Panca. Jalan buat kamu nunjukin ke dia kalau kamu merasa bersalah dan mencoba minta maaf. Oke?" Hafsah mengacungkan jempolnya. Aku membalasnya dengan senyuman tanpa kata-kata.
"Panca, sini. Pulang.." Sabrina memanggilku, sepertinya perasaannya udah lebih tenang dibandingkan kemarin. Kemarin dia bahkan nggak pengen banyak ngomong dengan aku. "Emm.. Masih ada yang mau diomongin?" aku mencoba bertanya. "Nggak ada." "Ya, baiklah. Bentar lagi aku ke kampus" "Ngapain?" Sabrina bertanya dengan nada yang agak tinggi. Aku nggak ngerti juga sih, apa maksudnya. "Aku mau coba tanya ke server, mungkin kita bisa dapat informasi dari situ". "Ya, terserah kamu deh, Panca."
Setelah siap-siap, aku berangkat ke kampus sendirian. Rencananya aku mau tanya ke FO, tapi FO kosong. Aku berjalan menuju ruang Server, sempat ku lihat ke arah ruang theater, seperti sedang ada acara. Sesampainya di depan ruang server, aku nggak jadi masuk. Karena di situ ramai banget, kayak lagi ada rapat. Aku putuskan untuk pulang. Aku duduk di depan kostan, lalu aku sms Hafsah. "Sah, FO lgi kosong. Entah ada acara apa di ruang theater. Terus, di server lagi ada semacam rapat. Jadi sementara ini aku harus gimana."
Hafsah nggak balas sms ku, tapi dia malah datang dan berhenti di depan kost. Di situ aku sama dia ngobrol-ngobrol, ngebahas masalah ini. Akhirnya Hafsah nyaranin aku buat datangin Sabrina. Kasi tau dia tentang keadaan saat ini, sekalian ngebahas buat rancangan pengumuman. Sebelum pergi, Hafsah ada bilang "Kamu jangan sungkan-sungkan, kalau ada masalah cerita. Aku di sini juga belajar, kita semua belajar. Mungkin kalian berusaha nyelsain masalah ini dan belajar untuk nggak ngulangi kesalahan kayak gini. Aku juga belajar bagaimana jadi penengah yang baik. Kalau aku ada salah, tegur aja. Asal jangan di omongin di belakang. Initinya nggak usah takut mengingatkan. Memang sih, secara umur dan pengalaman aku menang dari kalian. Tapi itu nggak menutupi aku untuk nggak ngebuat kesalahan. Tua itu pasti. Tapi dewasa, belum tentu."
Hafsah berlalu pulang, dan setelah sms Sabrina. Aku ke kostnya. Sampai di sepan kost, apalah yang terjadi? Dia liat mamang cilok, lalu nyuruh aku beli. Dasar tukang makan. Ada-ada aja.
Setelah aku belikan cilok, aku duduk di sebelah dia.
"Jadi gini, aku udah ke ruang server, tapi memang nggak bisa. Intinya, ini yang ngambil flashdisk pasti mahasiswa. Jadi step ini udah gagal, saran aku kita ke step selanjutnya. Kita buat pengumuman. Gimana?" "Ya, kita buat besok. Biar aku cari di google gambar flashdisknya yang mirip dengan punyaku" Sabrina menambahkan idenya. "Besok?" "iya besok." "besok jam berapa?" "besok jam enam, jam tujuh." "jangan nyiksa aku juga dong, tega banget. Jam delapan okelah, sanggup aku bangun." Aku mengeluh, anak ini memang terkadang ekstrim sekali. "Ya, ya. Jam delapan. Eh, jangan bilang kamu tidur di rampal?" "Nggaklah, kalau tidur di sana bisa-bisa aku nggak bangun." "Bagus deh, tapi besok di pengumumannya cantumkan nomor aku yang flexi sama nomor kamu juga ya?" "Ya iyalah.. Nggak masalah buat aku." padahal modus, kali aja ada cewek yang iseng-iseng miskolin nomor aku. Hus, ngawur aja.
"Eno gimana ya? Dia bisa nggak ngeliat siapa yang ngambil?" What the fuck! Eno!? Yang benar aja malah jadi lari ke dia. "Eno mana bisa. Tapi kalau orang yang kayak gitu, aku ada kenal. Aku juga nggak tau sih, orang itu bisa atau nggak. Dan aku juga sebenarnya nggak pengen ngelibatkan masalah ini sama hal yang kayak gitu. Kecuali setelah apa yang kita lakukan selama ini nggak ada membuahkan hasil" wow, sok keren sekali. "ya, kalau gitu tunggu satu minggu, ada hasil atau nggak." Setelah ngomong kayak gitu, Sabrina merogoh koceknya. Aku yang cepat tanggap langsung berdiri dan pamit pulang, aku yakin dia pasti mau ngembaliin uang cilok tadi.
"Ya udah, aku pulang dulu ya." pamit ku. "Uangnya besok aku ganti, ya?" "Nggak usah."

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti Ini

#131213
Yah, seperti biasa aku bangun telat, panik banget. Aku langsung sms Sabrina. "Sab, maaf bngt. Aku baru 10 mnit mngkin bngun. Blm mndi, msih ada org mandi. Sabar ya, nggak lama lgi aku mandi. Aku mandi nggk lama kok." Dari sms balasan yang aku terima, terasa banget kalau dia sekarang udah benar-benar bisa memaklumi dan memahami sifat burukku satu ini. Syukurlah..
Tiba-tiba saja, aku udah duduk di samping dia. Dekat, sangat dekat. Nggak bisa lepas pandangan ku, jemarinya yang menari indah di atas papan keyboard, mata beningnya yang tak lepas memandang LCD laptopnya. Aku nggak pernah menyangka sebelumnya, aku dan dia bisa sedekat ini.
Aku dan dia sibuk ngebuat desain pengumuman, sambil browsing gambar flashdisk yang cocok dengan yang sebelumnya dia miliki. Kebetulan, hari ini nggak ada dosen, jadi rasanya nggak terlalu buru-buru.
Semakin waktu berlalu, semakin banyak teman berdatangan. Anehnya, sekarang fenomena aku duduk berduaan sama Sabrina itu udah jadi hal yang biasa. Entah sejak kapan, akupun nggak pernah ingat. Yang aku ingat hanyalah, aku sayang dia dan aku merasa damai saat berada di dekat dia.
Desain selesai, aku sama Sabrina pergi ngeprint, sementara teman-teman udah pada pulang. Sabrina sempat nyaranin lima lembar tapi aku malah print enam lembar. "kenapa enam lembar?" "Terkadang angka lima itu angka sial buat aku"
Waktu pertama menempelkan selebaran ini, aku sempat bilang "ini pertama kalinya aku mempublikasikan nomor hp ku di tempat umum."
Ternyata nggak habis di tempel semua, cuma tiga tempat yang berhasil jadi target. Sisa tiga lembar, aku bawa satu, dan dia bawa dua. "Kamu kenapa pengen bawa kertas ini?" Tiba-tiba aja dia menanyakan hal itu. "Entahlah, tapi ini bakal aku tempel di kamarku."
Hari memang udah mulai siang, sementara aku sama dia sama-sama belum sarapan. Tumben, rasanya ini momen yang pas untuk ngobrol lebih leluasa. Berdua tanpa teman yang lain. Selama makan, banyak hal yang aku dan dia omongin. Dari mantan ku si Yuni, Pacar dia yang ternyata udah menjalin hubungan selama tiga tahun sama dia, bahkan sempat ngomongin gaya berpakaian cewek. Sialnya, entah dari mana, dia tau kalau aku suka banget ngeliatin pakaian cewek yang atasnya agak terbuka. Tapi bagus deh, dari sini aku tahu kalau dia bisa menerima keadaan ku yang seperti ini.
Tapi mau seberapa senangpun aku hari ini, tetap aja ada sisi hati yang tergores. Kenyataan tentang hubungan dia dan pacarnya benar-benar buat aku ngerasa semakin kehilangan harapan. Bayangin aja, mereka udah tiga tahun ngejalani hubungan. Aku nggak mungkin bisa mendapatkan apapun. Dan aku juga nggak mau ngerusak hubungan mereka, walaupun jauh di dalam hatiku benar-benar berharap mereka bakalan berpisah suatu saat nanti. Tapi, itu hanya mimpi, harapan yang mungkin sebenarnya nggak ada. Inilah, aku Sab, aku bakal terus berjalan menuju kamu dan meraih hatimu walaupun nggak ada harapan sedikitpun. Aku nggak akan pernah nyerah. Harapan memang nggak ada, tapi aku bisa menciptakan harapan.


***

"Sab, aku kalau lagi dekat cewek yang suka sama aku, pasti aku ngerasa risih." "Aneh banget?" "Entahlah, aku juga nggak tau apa sebabnya. Kamu risih kalau aku di dekat kamu?" aku mencoba menanyakan hal ini. "Enggak tuh, aku enjoy aja sama kamu. Kalau sama Vicky, aku risih." "Why?" "Karena dia terlalu kekanak-kanakan." Aku terdiam mendengar jawaban ini. Vicky yang awalnya dekat dengan Sabrina, sekarang udah semakin jauh.
Hingga akhirnya, pertanyaan ini keluar juga dari mulutnya. "Kamu masih suka sama aku?"
"Masih." "Why?" "Karena aku memang udah sayang sama kamu, dan nggak bakalan semudah itu aku lepasin kamu"

***

Tepat jam lima sore aku terbangun. Rasanya sangat-sangat berat. Tapi apa boleh buat, tadi siang udah janjian sama sabrina makan malam sama-sama.
Dengan berat mata, ku dudukkan tubuhku, masih aja rasa ngantuk ini bandel nggak mau pergi-pergi. Minum susu, habiskan rokok satu batang, barulah ngantukku berkurang banyak.
Akhirnya, setelah solat magrib, aku melepas kangen dengan mesin ATM. Alhasil aku di kasih uang jajan sama mesin ATM. Ku lihat LCD hp ku, ada sms dari Sabrina. "Kalau udah d dpan sms." "Aku udah di dpn kos ku. Km yakin? Ini gerimis. Klo yakin, jgn lupa pakai sweeter."
Nggak lama, dia datang ke kost ku dengan sweater/sweeter ungu dan payung cantiknya.
Rencananya sih mau makan di depan gerbang kampus sono, tpi orang yang jual nggak ada. Trus, nyari ke dekat indomaret.
Sambil nunggu naci goyeng, sama dia duduk di stand motor di depan dealer. Banyak deh, yang di omongin. Dari tentang dia ke Batu tadi siang, masalah film, masalah fb, pacarnya yang di korea, sampai ngomongin teman-teman di kelas juga ada. Macem-macem deh.
"Dulu tuh, aku sampai beli dua kamus indonesia korea" "Terus, kamu udah banyak bisa bahasa korea?" "Nggak sih, tapi ya lumayan lah." Lalu, dia nyebutin apa-apa aja yang udah dia tau tentang bahasa korea. Terus aku bilang "pastinya kamu tau dong bahasa koreanya aku cinta kamu?" "Tau, bahasa koreanya aku cinta kamu tuh #:'%;+* €>.~^" aku nggak mendengarnya jelas. "Apa? Coba ulangi." "#:'%;+* €>.~^" "Oh.. Aku juga cinta kamu" "Ish, dia nih.." Haha, mati aja lu, gua gombalin.

Intinya, hari ini aku banyak banget ngerasain kesenangan sama kamu. I hope, kita bisa terus dekat seperti ini. Kalau bisa sih, aku pengen lebih dekat lagi.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Benci Dia Karena Sayang Kamu

Hari ini aku nggak kuliah, begitu juga Sabrina. Belakangan aku tahu dia habis kecelakaan. Awalnya sih, aku nggak tahu kalau Sabrina kecelakaan. Lalu. Tepatnya, siang hari waktu gerimis-gerimis, aku sama Dwi lagi ngopi berdua di warung buka. Dua gelas kopi panas menemani obrolan santai kami. Di sela-sela obrolan, aku sempatin diri buat sms Sabrina. Awalnya sih, bingung mau sms apa tapi kat Dwi ajak dia jalan aja dulu.
"Sab, di kost gk?" aku mulai mengetik sms.
"Ia. Knapa" "Jln, yok." Berani nggak berani, aku harus sms kayak gini. Mau gimana lagi kan, kalau aku terus-terusan takut kapan bisa PDKT. Harus Sabar juga, Sabrina kadang lama balas.
"Kmana?" Tiba-tiba muncul keraguan, aku jadi nggak pengen ketemu dia karena cuaca lagi nggak bagus juga. Aku harus bisa tahan diri meskipun di dalam hati udah kangen banget pengen ketemu.
"Hujan nih, ndk jdi lah. Lgian aku bisa ngajak km kmna? Sbnrnya sih aku cuma pngen ketemu km." "Aku bru jatuh dari mtor kmarin. Jadi blm pande jln aku." Dari sinilah aku tau keadaan dia, jadi khawatir deh, dengan keadaan dia. Ku ketik lagi sms balasannya. ""Pantesan nggak kuliah.." Belum sempat ku kirim, hp ku di rampas dengan Dwi. Eh, malah di tambahin sama dia. "Pantesan nggak kuliah.. Kok nggak bilang aku, aku kan jadi kawatir" Sial, malah dia kirim sms yang kayak gitu.
Lumayan lama sih nunggu balasannya. Ya nggak apalah, toh aku juga sambil asyik ngobrol sama Dwi. Hp ku berdering lagi, ku buka pesan yang baru masuk.
"Lebay" Busyet dah.. Lagi-lagi aku di katain lebay. "Yg tdi sms itu bkn aku ya. Aku kan ingt kata2 mu "bs gk sih sms yg biasa2 aja". Jdi aku gk bakal sms yg lebay2. Iya sih, sbnrnya aku memang ttp lebay aslinya. Ntar mlm aku beliin km makanan ya." berkat ide Dwi nih, aku jadi sok perhatian beliin makan. "Ntar mlm kalau gag ujan, tmenin aku beli nasgor d dpan yo." "Gak usah aja sab, aku aja yang beliin, kan km msih sakit. Km sndiri kan tdi yg bilang, km blm bs jalan keluar. Udah, gk prlu takut ngrepotin, aku yg beliin nnti, km tnggu di kos aja." "Terserah kamu aja, kalau kamu ntar mlm maw pigy, yowes gag usah jadi" "Mksdnya "gk usah jadi" itu gimana? Km maunya aku belikan atau km pngen aku ikut km beli? Skrng sih terserah km.
Maaf sih, klo cuma mau beli makanan aja, sms ku ke kamu jadi ribet gini" "Skrng aku nanyak sma kamu, ntar mlm kamu maw pigy sma tmn kamu atw nggak ?" "Nggak, aku nggak sama tmn ku. Klo utk km aku lbh suka nglakuinnya sndiri, tnpa tmn. Klo km maunya km sama aku, it's okay."
Aku yakin, Sabrina pasti nggak mau kalau aku pergi sama Dwi.
"Yowes liat ntar mlm, kalau kaki ku dah gag sakit, aku ikut. :)" Aku suka, kalau dia balas sms ku sok imut kayak gini. Aku yang cowok sok cool ini, jadi gemes mikirinnya. Pengen banget ku balas pakai emoticon kiss, tpi aku ragu. Tapi, kata Dwi lakuin aja. Ya udah, ku lakuin aja. "Oke bebe.. :*"
Malamnya, dia sms bilang kalau dia udah ada di depan kost ku. Aku langsung keluar.
Kecewa.. Ternyata ada Herwin. Ya, Herwin teman sekelas ku. Teman pertama ku waktu aku pindah ke rembuksari ini. Dia orangnya baik, baik banget. Tapi karena hal inilah aku benci dia. Dia sering banget ada di posisi yang lebih baik di banding aku dalam masalah dekatin sabrina. Dia jauh lebih unggul di banding aku. Dan sekarang dia malah ikut-ikutan, padahal aku uda mengira kalau malam ini bakalan jalan berdua sama Sabrina. Fucking shit, lu Win.
Aku mencoba untuk ngobrol seakrab mungkin dengan herwin, tapi apa nyatanya? Ngobrol dengan orang yang kita nggak suka itu bukanlah hal mudah. Apa lagi semenjak aku tahu kalau dialah orang yang buat Sabrina jalan dengan kaki kanannya yang pincang.
"Tega kamu Win, bawa pujaan hatiku jatuh." aku berbicara sambil mengikuti langkah kakinya melintasi jalan trotoar yang basah.
"Aku juga nggak sengaja Ca, kalau aku bisa aku juga nggak mau jatuh." Dia menjawab dengan kalimat seperti manusia yang nggak berdosa. Sementara Sabrina, menoleh kebelakang dan tersenyum padaku.
Aku sayang sama Sabrina, aku nggak tega kalau dia sakit kayak gini. Apa lagi di sini dia nggak punya pacar yang bisa kasi perhatian yang cukup untuk dia. Terkadang aku mikir, salahkah aku yang selalu berusaha perhatian dan mencoba memenuhi apa yang dia mau?
Sepulangnya dari ketemu dia, aku sms dia.
"Bsk klo kaki mu msih sakit, jgn jalan jauh2 kyk tdi beli makanan. Msih bnyk kok tmn yg brsedia km repotin. Tpi, ingt.. Aku yg harus prtama km repotin, klo aku gk bisa bru tmn yg lain km repotin. Trserah, km mau nganggap aku sok prhatian atau apa, tpi memang gini lah aku, aku menciptakan diriku sndiri utk ada buat km."
"Ne, alasseo."
 
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Floridina

Pernah dengar dua orang sahabat yang pengen jadi saudara sedarah saling melukai jempolnya masing-masing dan menyatukan darah yang ada di jempol mereka agar bisa menjadi saudara sedarah?
Aku sama Eno sekarang udah jadi saudara, bukan saudara sedarah, tapi saudara sedaki. Haha.. Entah ada angin apa, tengah malam waktu itu, sekitar jam dua aku iseng-iseng ngolesin lulur ke tangan aku. Pengen ngelunturin daki sih, olesin lalu digosok-gosok sampai daki-daki di tangan berjatuhan di lantai. Wuuu.. Seru, kayak hujan salju, gitu. Hehe.. Sangking serunya, Eno ikut-ikutan. Wow, jadi lomba banyak-banyakan daki. Sambil menambang daki, entah joke-joke apa aja yang keluar dari mulut Eno dan aku. Sumpah, ketawa terpingkal-pingkal nggak bisa berhenti.
Setelah semua bagian tubuh selesai di kuras dakinya. Aku dan eno berinisiatif mengumpulkan daki-daki itu menjadi satu dengan menggunakan sapu. Entah ide dari mana, aku bentuk kumpulan daki itu menjadi bentuk hati. Secepat kentut. Eh, secepat kilat Eno mengeluarkan nikon D-3000-nya. Jpret.. How how, beberapa jpretan sakti Eno telah mengabadikan momen indah ini.
Sekarang, aku dan Eno telah menjadi saudara sedaki. :D
Nggak sampai di situ, pernah juga suatu ketika Eno kencing dan belum di siram, aku yang udah kebelet langsung ngucur di kloset tanpa perasaan berdosa sedikitpun. "Ca, kita sekarang saudara sekencing juga." :D

Udah malam, baru pulang ngantar Sabrina beli makanan. Aku lagi di kamar Dwi, ngobrol-ngobrol bareng Dwi. Karena Eno sms tanya aku mau nginap atau nggak, jadinya ku jawab mau.
Waktu mau berangkat sih, aku udah duga pasti Eno nyuruh aku yang bawa motor, makanya aku pakai sweater. Kebetulan ada floridina di motor Eno, karena haus dan mulut terasa pahit karena ngisep rokok marlboro, jadi langsung mau ku minum aja tuh floridina. Sebelum aku minum memang airnya sisa sedikit sih. Yang penting, hilang deh dahaga.
Shit!!! Ku muntahkan floridina yang udah nyampe di mulutku. Apaan nih, floridina kok kadarluarsa. Udah jadi lendir tau nggak, licin, asin lagi tuh. Sampai mau temuntah-muntah rasanya. Hueeekk... Nggak ada keluar apa-apa. Rasanya sakit banget. Cepat-cepat ku hidupkan keran air yang ada di dekat situ. Setelah kumur-kumur sambil mau termuntah-muntah. Akhirnya tenang juga ini perut walaupun masih neg rasanya.
Busyet, dah! Tau, apa kalimat Eno setelah mual ku reda? "Cacat kau Ca. Liur ku mau kau minum. Ghahaha..." Beh.. Hueeek... Hueek... Mual datang lagi, bahkan dengan rasa mual yang lebih dahsyat. Ya Rabbi.. Dosa apa aku. Hentikan mual ku ini ya Allah.
Eno ketawa terus nggak berhenti-berhenti. Nggak ngerti apa, gua geli banget. Jijik.. Hueek...