23 April 2014

Memaknai Cerita Yang Terlewati

Waktu, waktu adalah tahap dimana seseorang
menjalani masa-masa dalam hidupnya. Sesuatu yang sedang
dijalani saat ini dan akan menjadi kenangan sambil melihat ke
masa depan. Semua orang pasti memiliki tiga tahapan waktu ini
selama dia masih merasakan nafas di dalam dirinya. Segala
apapun akan berlalu dan dikenang di masa depan, entah itu
kenangan baik ataupun buruk. Saat seseorang sedang berada di
dalam zona waktu yang baik, dia tidak akan berpikir untuk
kembali ke masa lalu. Sebaliknya, seseorang akan sangat
merindukan masa lalu saat dia terjebak di zona waktu yang
gelap dan menyedihkan.

Selama ini, aku terlalu sering melihat seseorang
merindukan masa lalu dan beberapa kenangan yang ada di
dalamnya. Hal ini paling sering terjadi ketika seseorang sedang
menempuh studi kuliah dan merindukan masa-masa SMA-nya.
Entah apa yang membuat begitu banyak orang menginginkan
untuk kembali ke masa itu, terlalu banyak faktor yang
menyebabkan itu terjadi. Padahal jelas sekali, mereka nggak
akan pernah kembali ke masa itu lagi, tapi mereka tetap
berharap dengan segenap keinginannya.

Tapi sejauh ini aku nggak pernah berpikir untuk
kembali ke masa laluku, terutama masa-masa SMA dulu. Ya,
aku akui masa itu adalah masa dimana hampir semua hal terasa
menyenangkan dan ringan untuk di jalani, tak begitu banyak
beban yang harus dipikul. Tapi nggak, aku nggak pernah
berpikir untuk kembali ke masa lalu seberapapun suramnya
kehidupan yang saat ini ku jalani. Aku pikir, nggak ada
gunanya berharap untuk kembali, itu bukan suatu impian yang
benar. Menjalani hidup yang baik adalah dengan menikmati
kehidupan saat ini, menjadikan masa lalu sebagai sejarah dan
pengalaman hidup, dan mencoba memimpikan masa depan yang baik.

Masa balitaku, ku habiskan di rumah tetangga atau
sekedar seharian bermain di rumah temanku atau teman orang
tuaku (ribet banget mau bilang dititipin ke orang). Banyak hal
sih yang pengen aku ceritakan di masa ini. Dulu, aku suka
banget main sama anak ayam, subuh-subuh jam setengah lima
langit masih biru gelap aku udah di halaman depan rumah
ngerumpi sama induk ayam dan anak-anaknya yang lagi makan
beras yang ku taburkan di tanah, momen itu sempat di
abadikan entah oleh siapa dengan klise jaman dulu, semoga aja
fotonya masih ada di rumah sintang. Dulu juga aku pernah
punya pengalaman waktu masih umur empat tahun, aku ikut
abangku, Joko ke sekolahnya, ikut belajar di kelas karena di
rumah lagi nggak ada yang bisa jagain aku, saat itu abangku
duduk di kelas satu SD. Hal pertama yang terjadi di kelas
adalah, seorang ibu guru yang menjabat sebagai wali kelas
abangku bertanya, "Joko, itu siapa?" abangku pun menjawab. "Adek bu, bapak nyuruh bawa ke sekolah." Bapak ku selalu
punya ide gila. -_- "Besok-besok jangan di bawa lagi ya..."

Masih ada satu lagi hal lain yang ku lewati bersama
abangku. Waktu itu abangku kelas dua SD, dia masuk sekolah
agak siang jam sembilan, sebelum dia berangkat, aku hanya
berdua sama dia di rumah, orang tuaku udah pada berangkat
kerja dan menitip pesan agar abangku mengantarkan aku ke
tempat tetangga sekalian abangku berangkat sekolah. Mungkin
sekitar setengah sembilan, abangku udah siap dengan seragam
merah putinya, aku dan dia berencana berangkat dari pintu
belakang rumah, saat di belakang rumah aku dan abangku
ngelihat ayam yang lagi bertelur, niat isengpun keluar dari
otaknya. Tanpa banyak berkata, dia acungkan jari telunjuknya
ke pantat ayam yang sedang ngeden berusaha keras
mengeluarkan telur dari lubang pantatnya. Dengan wajah
binalnya abangku mendorong telur ayam yang sudah setengah
keluar itu agar masuk kembali ke rahim ibunya. Dengan sekuat
tenaga ayam itu menggerang berusaha mengeluarkan telurnya.
Dengan suasana hati yang senang abangku nggak mau kalah
begitu aja dengan si induk ayam, hingga akhirnya sang induk
ayam kalah dan telurnya pun kembali masuk kedalam rahimnya.

Dengan muka tanpa dosa, abangku telah berhasil memuaskan
nafsu binalnya. Aku hanya terdiam memperhatikannya, entah
ekspresi apa yang aku pasang saat itu. Yah, terkadang ada
saja kisah di masa lalu yang bisa buat kita tersenyum saat
mengenangnya.

Akhirnya setelah melewati masa balita bersama
tetangga dan kerabat orang tua, aku bisa masuk SD pada saat
aku berumur tujuh tahun. Pada tahun sebelumnya aku di tolak
karena badanku masih terlalu kecil. Masih kecil aja ditolak
masuk SD, udah besar di tolak sama cewek-cewek. Sebenarnya,
orang tuaku bukan dari kalangan yang berlebihan, bahkan satu
hari sebelum masuk sekolah aku belum punya sepatu. Entah
karena orang tuaku sedang tidak ada uang atau waktu itu
sudah terlalu malam untuk membeli sepatu baru. Akhirnya,
entah jam berapa saat itu, aku dan orang tuaku, pergi ke
rumah kerabat, disitu kita meminjam sepatu anaknya yang
udah nggak kepakai untuk ku pakai ke sekolah di hari pertama
besok. Syukurlah mereka punya, tapi sayangnya yang ada
hanya sepatu anak perempuannya yang bisa ku pinjam. -_-
Saat itu orang tuaku mencoba meyakinkanku, inilah pilihan
terbaik untuk saat ini. Aku dengan kepolosanku memandangi
sepatu hitam dengan sedikit motif bunga kecil yang sedang
terpasang di kakiku. Alhasil, aku menggunakan sepatu itu
selama tiga hari. Untunglah, tak ada satupun temanku di kelas
yang menyadarinya, dan selama tiga hari aku menggunakan
sepatu itu, aku ngerasa enjoy banget. Ya, dari pengalaman ini
aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu didapatkan dengan
sesuatu yang terlihat bagus, apa lagi mewah. Apa yang kita
inginkan bukan berarti yang kita butuhkan, mungkin apa yang
tidak kita inginkanlah yang kita butuhkan. Saat kita bisa
menerima apa yang kita punya, kebahagiaan akan terasa lebih
indah.

Next, hingga suatu ketika saat aku duduk di kelas
tiga SD semester dua, aku pindah sekolah ke desa batu buil,
kabupate melawi, kecamatan belimbing. Aku nggak lagi tinggal
dengan orang tuaku, di sini aku tinggal dengan abangku yang
paling tua serta kakak ipar dan keponakanku, Bima yang waktu
itu masih duduk di kelas satu SD. Hari-hari pertama di sekolah
baru berjalan dengan sewajarnya, nggak banyak hal aneh yang
terjadi, aku punya banyak teman di sini, aku juga jadi anak
populer dikalangan anak kelas tiga. Mungkin sedikit kepedean,
tapi pada nyatanya memang kebanyakkan cewek di kelas tiga
naksir sama aku, termasuk waktu itu si Oke (nama samaran)
naksir berat sama aku. Di hari pertama dia langsung to the
point kalau dia suka sama aku lewat suratnya yang kira-kira
isinya “Panca, aku suka sama kamu. Kamu ganteng banget sih?
Kamu itu kayak Vijay (*mungkin begitu nulisnya) artis india itu
loh.” -_- Sungguh, aku merasa bodoh sekali mengingatnya
kembali, aku memanfaatkan Oke untuk menjadi budakku,
apapun yang aku mau, pasti dia akan menurutinya.

Sejujurnya, nggak ada yang aku kangenin dari masa kecilku yang satu ini.
Saat aku udah kelas empat SD, ada anak baru yang masuk di
kelasku, namanya Angga, dari hari pertama ketemu sampai
sekarangpun aku dan dia tetap akrab walaupun jarang ketemu
lagi. Selama SD aku selalu sama dia, senang susah sama-sama,
termasuk susahnya waktu di kejar Oke si bencong super yang
dulu naksir sama aku. Memang aneh sih, dulu dia suka aku tapi
waktu kelas empat dia jadi binatang buas yang sering ngejar-
ngejar aku sama Angga. Waktu itu entah karena apa, untuk
kesekian kalinya Oke ngejar-ngejar aku sama Angga, sampai
keluar lingkungan sekolah. Setelah jauh kejar-kejaran Oke
udah nggak keliatan lagi, aku dan Angga duduk istirahat di
belakang rumah kepala sekolah dengan nafas yang ngos-
ngosan. Sementara itu jam istirahat hampir selesai. Aku
memutuskan untuk secepatnya kembali ke sekolah dengan
berlari, Angga pun mengikutiku dari belakang, mungkin jarak
aku dan dia berkisar tiga meter. Aku yang sedang terburu-
buru berlari cukup kencang tanpa memperhatikan lingkungan di sekitarku. Dengan kecepatan lumayan tinggi (mungkin 22 km/
jam) aku menabrak kawat jemuran tepat di dada yang
terbentang di antara tiang kayu dan pohon pisang di sisi
lainnya (ada sekitar lima atau enam pohon pisang yang
berdempetan). Aku terpental ke belakang dan terjatuh
terduduk, ku rasakan dadaku sangat sakit dan nafasku begitu
sesak. Angga yang melihat pohon pisang yang bergoyang malah
mengira ada Oke yang bersembunyi di situ. Angga menambah
kecepatannya karena takut di tangkap Oke tanpa tahu ada
kawat jemuran yang menanti di hadapannya. Aku mencoba
berteriak mengingatkan, tapi aku nggak mampu mengeluarkan
suaraku karena sesak. Wuzz... Brukk!!! Angga terpental dan
terjatuh ke tanah, aku menoleh ke arahnya yang sedang
telentang di atas rerumputan sambil menahan sakit. Nasibnya
lebih buruk dariku, dia terpental lebih jauh karena dia
menabrak kawat jemuran dengan kecepatan yang lebih tinggi
dariku. Setelah beberapa saat, rasa sakit dan sesak yang kami
alamipun mereda, saat di cek, dada kami membekas garis
merah tepat di bagian dada. Sampai saat inipun pengalaman
itu belum terlupakan. Aku dan Angga sering tertawa
terbahak-bahak saat mengingatnya kembali. Dari kisah ini aku
mengerti, sahabat yang sebenarnya adalah sahabat yang
pernah menggoreskan tintanya di kehidupan kita, pernah
melalui suka duka bersama, saling mengingat meskipun udah
nggak sama-sama lagi, dan kadar keakrabannya tetap sama
atau lebih walaupun udah lama nggak ketemu.

Masih di kelas empat SD, dan masih di sekolah yang
sama. aku menempati kelas yang nggak begitu besar,
ukurannya seperti ruang kelas pada umumnya. Nggak begitu
kumuh walaupun ada sedikit kecacatan dengan kelas ini. Ya, di
bagian belakang ada dinding yang berlubang cukup besar,
bentuknya memang nggak bulat sih, tapi diameternya bisa di
perkirakan samapai 35 cm. Jadi, dari kelasku aku bisa melihat
ke kelas lima yang tepat bersebelahan dengan kelasku,
kebetulan waktu itu aku duduk sama Angga di kursi paling
belakang, jadi aku bisa sering-sering mandangin kelas sebelah.
Sungguh, keadaan kelas ini jadi nggak kalah miris dengan
sekolahan di film laskar pelangi.

Waktu itu, jam istirahat sudah hampir selesai, kelas
masih tetap sepi ditinggal penghuninya pergi ke kantin, hanya
tinggal aku dan temanku Bernabas yang masih tinggal. Aku
nggak ke kantin bukan karena lagi nggak ada uang, tapi aku
lagi nggak enak badan. Bernabas yang menyadari kondisi ku
langsung melapor ke ruang guru. Kembalinya Bernabas ke kelas
membawa seorang guru, Pak Rafinus (nantinya dia adalah
bapak dari pacarku di kisah selanjutnya). Pak Rafinus tidak
masuk ke kelas, dia hanya berdiri di muka pintu sambil
berbicara padaku yang duduk lemas di bangku belakang.
"Kamu kenapa, Panca?" Tanya pak Rafinus. "Demam, pak."
"Kamu pulang aja kalau memang nggak mampu." Tanpa banyak
bicara lagi pak Rafinus kembali ke ruang guru. Sebenarnya aku
masih mampu untuk ikut belajar sampai waktunya pulang, tapi
karena memang lagi malas, ya ku putuskan untuk pulang. Entah
kenapa, saat aku keluar dari kelas, banyak anak-anak kelas
lima dan enam yang memperhatikanku. Baru saja kakiku
menginjak tanah, ada seorang cewek yang aku nggak kenal itu
siapa menghampiriku dari samping, dengan agak menunduk dia
mencoba memperhatikan mukaku yang pucat. Dia berbicara
padaku sambil memegang pundak kiriku. "Kamu kenapa?
Demam ya?" Tanyanya dengan nada khawatir. "Iya." Aku
menjawab tanpa menoleh ke arahnya. "Kamu mampu pulang
sendiri?" Aku hanya menganggukkan kepala. "Kamu hati-hati,
ya." Langkahnya terhenti, nggak lagi mengiringi langkah
kakiku. Aku mencoba menoleh kebelakang, mencari tahu siapa
cewek yang baru saja berbicara padaku. Aku melihatnya
terdiam menatapku yang semakin menjauh. Ternyata dia anak
kelas lima yang akhir-akhir ini ku taksir.

Beberapa hari berlalu, saat jam istirahat tiba, aku
selalu menghabiskan waktu di hadapan dinding berlubang itu.
Melekatkan pandangan ke arah anak-anak kelas lima yang
sedang asyik bermain di kelas. Sesekali pandanganku tertuju
pada cewek yang tempo hari berbicara padaku saat aku pulang
lebih awal karena sakit. Sesekali juga ku dapati dia sedikit
menolehkan pandangannya kepadaku. Sungguh, aku ngerasa
aneh memperhatikan dan di perhatikan olehnya tanpa tahu
siapa dirinya, bahkan sampai saat itu aku nggak tahu siapa
nama dia. Hingga hari-hari selanjutnya aku diberi tahu sama
temanku kalau namanya Novi, sering di panggil Novi W karena
di kelasnya juga ada anak lain yang bernama Novi S. Pada hari
selanjutnya, di hadapan tembok yang sama dan kegiatan yang
sama, Novi W yang ditemani Novi S datang menghampiriku,
mencoba mengajak aku berbincang lagi. "Hai, adek.. Namanya
siapa?" Tanyanya dengan wajah yang ceria. "Panca, kak." Aku
hanya menjawab singkat karena terlalu gerogi. "kok di kelas
terus?" "Aku malas kak, mau pergi ke kantin." "Emm... Kakak
Mau tanya, adek suka cewek yang kayak gimana sih?" Baru ku
sadari, dia memegang secarik kertas dan sebuah pulpen di
kedua tangannya, dia bertanya dengan posisi tangan seolah-
olah bersiap untuk mencatat sesuatu. Saat itu aku bodoh
banget, nggak sadar dengan kelakuan modusnya, dan dengan
polosnya aku menjawab. "Apa ya, aku suka cewek yang cantik,
tinggi, kayak kakak lah pokoknya." Dia seperti nggak merespon
apa-apa, tapi tangannya sibuk seperti sedang mencatat apa
yang baru saja keluar dari mulutku. "Oh, ya udah, makasih ya.
Kakak pergi dulu." Dia pun berlalu meninggalkan ku.

Keesokan harinya, pada saat istirahat Novi S,
teman Novi W datang ke kelasku. Dia memberiku secarik kertas
dan segera meninggalkanku. Aku membuka dan membaca
secarik kertas yang ternyata adalah surat cinta dari Novi W.
Aku nggak ingat jelas seperti apa persisnya kata-kata di surat
itu. Intinya Novi W bilang kalau udah cukup lama dia suka sama
aku. Nggak nyangka juga sih, bakalan dapat surat cinta dari
dia, pastinya aku ngerasa senang. Tapi aku ragu untuk
membalas suratnya dengan tulisanku sendiri, akhirnya aku
cerita dan minta tolong sama Daus untuk menuliskan surat
balasan dengan sama seperti apa yang akan ku ucapkan
(sekarang aku merasa bodoh, ternyata tulisan Daus jauh lebih
jelek dibandingkan dengan tulisanku). Setelah suratnya selesai,
aku langsung meminta Daus mengantarkan suratku ke Novi W.
Nggak berselang lama datang lagi surat ke dua dari dia, yang
isinya nggak jauh beda dari surat yang sebelumnya. Lonceng
tanda istirahat selesaipun berbunyi, tapi sebelumnya aku sudah
sempat membalas surat ke dua dan sudah di kirim ke Novi W.
Pelajaran terakhirpun dimulai, saat itu aku belajar dengan
kondisi pikiran yang nggak fokus. Yang aku pikirkan hanyalah
dia, dia dan dia.

Pelajaran berakhir, kelasku yang paling pertama
bubar dan nggak seperti biasanya aku pulang sendirian tanpa
teman-temanku. Ku langkahkan kakiku dengan santai menuju
rumah. Setelah agak jauh dari sekolah, aku menoleh ke
belakang, terusik dengan suara sorak-sorak nggak jelas dari
anak-anak kelas lima. Dari kerumunan itu ku lihat Novi W
berlari ke arahku, terlihat jelas di tangan kanannya dia
menggenggam kertas putih, mungkin itu surat dariku. "Panca!"
Teriaknya sesaat sebelum mendekatiku. Mukanya terlihat
merah dan marah. "Bilang sama teman-teman kamu, aku
bukan pacarmu!!!" Setelah mengatakan itu, dia merobek-robek
kertas yang ada di tangannya dan membuangnya di depanku.
Dengan kemarahannya, dia berlari meninggalkanku, dan tanpa
tahu harus memasang ekspresi yang seperti apa, aku
melanjutkan perjalanan pulangku. Aku bingung, aku sedih, aku
nggak tahu apa yang aku rasakan saat itu, dan aku nggak tahu
harus bersikap apa, betapa polosnya aku saat itu. Satu hal lagi
yang aku bingungkan sampai sekarang. Kenapa dia menyalahkan teman-temanku ya? Padahal yang ngejekin dia itu teman-temannya sendiri, tapi ya sudahlah.

Semenjak kejadian itu, aku dan Novi W saling
bersikap biasa-biasa aja, seolah nggak ada yang pernah terjadi
sebelumnya. Waktu SMP aku sama dia satu sekolahan lagi,
kalau ketemu juga nggak pernah tegur-tegruan, bersikap
saling nggak kenal. Tapi nggak selamanya kayak gitu, buktinya
saat ini, setelah sekian lama nggak ketemu, aku sama dia
sering tegur sapa sekedar bertukar kabar lewat sms atau
pesbuk.

Cinta memang nggak selamanya berjalan seperti
apa yang di harapkan, terkadang ada faktor eksternal yang
datang menggoyahkan perasaan yang kita miliki, itulah kenapa
sampai saat ini aku memaklumi sikapnya kepadaku dulu. Dan
yang terakhir, meskipun kita pernah menjauh dari seseorang
ada kalanya kita harus berhenti melakukan itu agar tali yang
pernah terjalin nggak terputus begitu aja. Kita harus bisa
memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain dan kesalahan
yang kita lakukan sendiri, biarkan masa lalu yang suram atau
menyedihkan berlalu hanya sebagai lembaran cerita yang suatu
saat akan kita baca kembali dalam bentuk buku yang akan
mengajari langkah kita selanjutnya.

Memori di masa kecil masih banyak yang tersimpan
di otakku. Masih dengan kisah cinta monyet yang nggak jauh
beda. Tahun 2005, aku duduk di kelas lima SD, aku jatuh cinta
lagi sama cewek pindahan. Dia satu kelas dengan aku, dari
pertama masuk aku langsung falling in love sama dia. Namanya
Arina, entah berapa lama aku jatuh cinta dengan dia, tanpa
pedekate aku berencana untuk nyatain cinta ke dia, saat itu
Angga juga pengen nyatain cintanya ke cewek yang dia taksir,
tapi kali ini aku lagi nggak pengen cerita tentang kisah cinta
Angga. Setelah tanya-tanya temanku, temanku bilang kalau
kasi kado buku diary waktu nyatain cinta, mungkin bakalan
diterima. Mungkin waktu itu hal seperti ini terkesan romantis,
tapi setelah sekarang ku ingat-ingat lagi rasanya norak
banget. Akhirnya pada suatu sore aku dan Angga pergi ke
suatu toko alat tulis kerja (ATK) untuk membeli buku diary
yang paling bagus. Ada banyak buku diary yang kami temui,
dari yang harganya empat ribu rupiah sampai yang paling
mahal tiga puluh ribu rupiah. Setelah beberapa saat berunding
dan memilah-milah, aku dan Angga memutuskan untuk membeli buku diary yang paling mahal.

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku memberikan
buku diary itu ke teman Arina (aku lupa siapa temannya itu)
agar dia menyampaikan buku diary itu beserta cintaku kepada
Arina. Si cewek pergi melaksanakan misi, aku yang ditemani
Angga menunggunya di depan kelas. Sekitar lima belas menit
kemudian cewek itu kembali dengan buku diary yang masih utuh di tangannya. Tanpa menerka terlebih dahulu, aku bertanya kepadanya (maaf, percakapan berikut hanya karangan belaka dikarenakan penulis tidak ingat percakapan aslinya). "Kok, nggak jadi dikasi?" Tanyaku cemas. "Itu, Arina nggak mau
terima, katanya" "Loh, kok gitu?" Tanyaku lagi. "Dia bilang,
dia nggak mau pacaran dan nggak mau terima buku diary dari
kamu karena takut dimarahin sama bu Norma (wali kelas
kami)." Yah, mendengar jawaban itu, aku sedikit kecewa, tapi
aku sama sekali nggak galau karena ditolak sama Arina. Sama
sekali nggak sedih ataupun kecewa.

Masalah buku diarynya, aku nggak ingat sekarang
kemana, entah aku bawa pulang atau gimana aku nggak ingat.
Sementara saat itu, Angga mengurungkan niatnya untuk
menyatakan cinta ke cewek yang dia suka, alasannya takut
ditolak sama seperti aku. Kawanku pengecut (semoga dia
nggak baca). Pada tahun ajaran selanjutnya, aku naksir teman
sekelasku yang lain, namanya Rini. Tapi aku nggak akan cerita
panjang karena terlalu panjang dan cukup memalukan jika ada
orang yang tahu aib di balik cerita ini selain teman-temanku.
Pada inti cerita, aku ngajakin Rini pacaran dengan metode
yang sama, menggunakan kitab keramat, buku diary. Bedanya,
yang ini aku nyatain cinta secara langsung tanpa Perantara.
Aku di terima dan Rini menjadi pacar pertamaku. Kami
pacaran, selama seminggu menjalani hubungan tanpa
kebahagiaan dan pada akhirnya aku diputusin dengan alasan
dia nggak suka sama aku dan hanya memanfaatkan aku. Dan
untuk kali ini, aku benar-benar nggak galau karena aku merasa
terbebas dari pacar yang lebih mirip nenek sihir ketimbang
seorang pacar.

Ok right, seperti yang kalian tahu, biasanya orang
punya kisah cinta yang baik dengan pacar pertamanya, tapi
nggak dengan kisah cintaku. Ikhlas aja deh, dapat pacar
pertama yang kayak gitu, lagian nggak ada gunanya menyesali,
masa lalu yang terlewati nggak akan berubah apapun yang kita
lakukan saat ini. Tapi, aku juga bersyukur, sekarang dia jauh
lebih baik dari pada dia yang waktu kelas enam SD dulu.
Beberapa tahun berlalu, aku udah menduduki
bangku kelas dua SMP. Di tahun inilah banyak cerita yang
tersimpan. Setelah pertama aku pacaran di kelas enam SD,
baru kelas dua SMP ini aku mulai pacaran lagi dengan seorang
cewek yang namanya Mira. Dia bukan orang dari kalangan
berlebih, dia juga nggak begitu cantik, aku akui badannya seksi
banget, tapi bukan itu yang buat aku jatuh cinta sama dia.
Awal ketemu Mira, aku cuek banget, dia ngeliat aku
dan ngelempar senyum kecil ke arahku, tapi aku malah nggak
menghiraukan dia. Selanjutnya juga aku selalu bersikap cuek ke
dia, dia sering banget ngajakin aku ngomong, tapi aku selalu
menjawab apa adanya lebih terkesan judes karena aku nggak
banyak menatap wajahnya. Hingga akhirnya ada yang ngasi
tahu aku  kalau sikap aku ke dia itu nggak enak banget,
katanya dia jadi sedih dan jadi benci dengan aku. Beberapa
hari selanjutnya setelah aku cerna kembali apa yang udah aku
lakuin ke dia selama ini, aku pun mengerti dan mencoba
merubah sikapku. Syukurlah, semua berjalan baik, aku bisa
mengakrabkan diri ke dia, dan dia jadi nggak berpikir kayak
sebelumnya lagi. Bahkan dia sempat bilang "Aku nggak
nyangka, kamu orangnya kayak gini. Aku senang kamu baik,
kamu nggak judes lagi sama aku."

Beberapa bulan berlalu, aku mulai ngerasain apa
yang sebelumnya nggak ku rasain tentang dia. Dalam
keakraban yang terjalin, semakin menyadari kalau aku jatuh
cinta secara perlahan. Banyak hal yang buat perasaan itu
muncul, tapi yang paling utama adalah, dia selalu kasi aku kasih
sayang yang udah lama nggak aku dapatin karena aku terpisah
dari orang tuaku. Bersama Mira yang umurnya tertaut lebih
tua dari aku tiga tahun, dia menjadi tempat di mana aku bisa
manja-manjaan. Dia juga mengajari aku banyak hal yang
sebelumnya nggak pernah aku tahu.

Masalah jadian, Aku nggak pernah ngajakin, yang
ada dia yang kepengen banget jadi pacar aku. Akhirnya dengan
banyak pertimbangan kami memutuskan untuk backstreet.
Walaupun kayak gitu, aku sama dia bahagia dengan hubungan
kami. Setelah hampir satu tahun menjalani hubungan, kami
harus pisah karena dia harus kerja di lain tempat. Aku sama
dia jadi nggak bisa sering-sering ketemuan karena
kesibukannya yang baru, itupun aku harus menempuh
perjalanan sekitar dua puluh menit untuk bisa sekedar
ngobrol-ngobrol sebentar sama dia. Akhirnya, aku udah lulus
SMP, orang tuaku memutuskan aku kembali sekolah di Sintang
dan tinggal bersama mereka.

Aku jadi semakin jarang ketemu mira semenjak tinggal di Sintang. Saling kontak lewat hp pun semakin jarang karena kesibukannya yang semakin bertambah.
Berita terakhir yang aku dapat tentang dia, dia punya pacar
lagi, ya itu juga setelah mendapat ijin dari aku. Aku pikir, kita
jarang ketemu, mungkin dia butuh yang lain selama aku nggak
ada. Selama itu, aku memang cinta banget sama dia, aku rela
dia melakukan apapun asal itu demi kebaikan dia.
Hubungan udah berjalan dua tahun dua bulan,
beberapa minggu terakhir dia nggak pernah ada kabar, nomor
nyanggak pernah aktif setiap aku hubungi. Saat libur
semester, aku memutuskan untuk pergi menemui dia, ditemani
Angga yang sebelumnya nggak setuju banget aku pacaran sama
dia, tapi demi keinginan teman dia rela aku ketemuan sama
Mira dengan syarat kalau memang aku nggak bisa ketemu Mira,
aku harus lupain Mira.

Akhirnya, aku berangkat sama Angga ke
tempat dimana Mira bekerja. Dari karyawan yang lain aku
dapat informasi kalau Mira udah nggak kerja di situ semenjak
beberapa bulan yang lalu. Dan hal yang sangat mengejutkan,
Mira udah tunangan entah dengan siapa. Dengan penuh kecewa,
aku dan Angga memutuskan pergi ke rumah Mira untuk
mencari kepastian. Tapi apa yang terjadi, rumahnya kosong.
Dari jauh ada tetangganya yang berteriak memberitahukan
kalau Mira udah pindah dan nggak tinggal di rumah itu lagi.
Ya, seperti kapas tertimpa batu, aku nggak bisa
melakukan apa-apa lagi, aku hanya bisa menyerah dan
menerima penderitaan yang ada. Ini hal yang sangat berat
untuk diterima anak seumuran ku. Terlalu lama aku larut di
dalam kesedihan, aku nggak bisa terima kalau aku harus
ditinggalkan setelah aku merasakan begitu banyak hal indah
yang dia berikan selama ini. Tapi aku nggak selamanya berada
di dalama vom anak kecil. Perlahan aku tumbuh dewasa dan
mengerti, apa yang telah dia lakukan ini demi kebaikanku. Dia
memang pergi tanpa pesan, tapi kepergiannya membuat aku
sadar kalau hubungan yang selama ini kami jalani bukanlah hal
yang terbaik. Dari awal orang tuanya menginginkan dia bisa
menikah dengan laki-laki yang mapan, bukan anak kecil seperti
aku yang belum jelas masa depannya. Keluargaku juga
melarangku saat mereka tahu tentang hubunganku, mereka
nggak mau aku pacaran sama dia yang udah jauh lebih tua dari
aku, selain itu Mira di mata keluargaku juga bukan perempuan
yang baik. Hal terakhir yang aku pelajari dan aku yakini, Mira
begitu sayang dengan aku, dia nggak mampu untuk berkata
tentang semua kenyataan ini, dan dia berpikir dia bukanlah
orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku.

Next, tentang hal lain, kalian pasti sering melihat
tulisan atau gambar di SPBU saat kalian mengisi bahan bakar
kendaraan yang menunjukan bahwa dilarang merokok di area
SPPBU, mungkin karena bisa memicu terjadinya kebakaran.
Tapi anehnya, kenapa di kotak rokok hanya dituliskan rokok
dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dsb,
kenapa tidak ada di tuliskan rokok dapat menyebabkan
kebakaran di SPBU?

Aku merupakan perokok aktif sejak aku masih kelas
satu SMP, awalnya aku hanya iseng mencoba karena penasaran.
Tepatnya, waktu itu aku dan temanku Angga entah dapat dari
mana, siang hari itu kami memiliki beberapa batang rokok L.A.
Kamipun berinisiatif untuk menghisapnya di gubuk kecil di
belakang rumah agar tidak ada satu orangpun yang tahu.
Awalnya ada sedikit rasa ragu saat udah tiba di gubuk. timbul
berbagai banyak pertanyaan dan kecemasan, bagaimana jika
ada orang yang lewat? Lalu bagaimana jika asapnya terlihat
dari kejauhan? Setelah berpikir keras Angga menemukan ide
agar kami berjaga bergantian selagi salah satu sedang
menikmati rokok, lalu kami membuat api unggun di dalam gubuk kecil ini untuk menyamarkan asap rokok yang kami hembuskan.

Satu-persatu kami bergantian menghisapnya. "Gik,
Bima mau ke sini!" Tutur Angga yang baru saja melihat Bima
dari kejauhan berjalan ke arah kami. Akupun mematikan rokok.
"Gik, jangan kasi tau Bima, nanti dia ngelapor bapaknya."
Rokokpun udah ku matikan dan Bima sampai ke gubuk. Entah
kenapa, setelah sekian lama berbincang, kamipun membongkar
rahasia kami. Di luar dugaan, tanpa disuruh, Bima nggak akan
ngelapor, bahkan dia ikut berpesta bersama kami. -_-

Scene selanjutnya, sepulang les sekolah, aku dan
Angga berniat merokok lagi, kali ini kami mengajak Daus untuk
ikut, dengan motor Supra milikku, kami tanjal tiga mencari
tempat yang aman. Hingga sampailah kami di sebuah kolam
yang tertutup semak belukar, biasanya tempat ini digunakan
untuk mandi oleh orang-orang setempat. Sambil mengobrol,
kami bertiga menikmati asap hembusan demi hembusannya.
Tengah asyik-asyiknya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki
seseorang mulai mendekat. Ah tidak, kami harus terburu-buru
mematikan rokok yang belum habis setengahnya. Ku lempar
sejauh-jauhnya rokok yang ku pegang ke arah semak-semak
rimbun di dekatku. Entah apa yang Daus lakukan dengan
rokoknya (dia ikut ngerokok aja aku nggak ingat), sedangkan
Angga mematikan rokoknya dan menyembunyikan di balik
bajunya. Ternyata yang datang ibu-ibu dan anaknya yang
sedang ingin mandi. Kami bertiga pun memutuskan untuk pergi.
Di motor, "Akay Gik, api rokokku tadi belum mati benar, ku
sembunyikan di baju, rupanya masih ada apinya. Ku tekan aja
kuat-kuat ke perutku sampai mati." Ah, Angga memang
bodoh...

Waktu lama berlalu tanpa ku sentuh lagi barang
makruh yang namanya rokok itu, hingga suatu ketika, aku
mulai terpisah dari Mira dan kekurangan kasih sayang. Rokok
adalah sarana yang ku jadikan sebagai tempat pelampiasanku.
Aku mulai kenal rokok lagi semenjak aku akrab dengan
temanku, Nodi. Semenjak saat itu dan sampai sekarang,
berhenti merokok seperti hal yang mustahil. Aku sempat
menyesalinya, tapi sekarang aku berpikir nggak ada gunanya
menyesal. Pernah suatu ketika saat aku masih kelas satu SMK,
aku tidur dengan menggunakan bokser dan tanpa menggunakan
baju. Sebelum tidur aku sempat merokok dulu, karena sudah
terlanjur mengantuk aku malas untuk beranjak dari tempat
tidur untuk menyembunyikan rokokku (saat itu orang tuaku
belum tahu kalau anak kesayangannya ini pecandu rokok. Ku
selipkan sebungkus rokok yang ku punya itu di bokserku dan
aku lekas terlelap.

Keesokan harinya seperti biasa mamakku
membangunkan aku, karena aku lagi malas jadi aku pura-pura
nggak bangun. Mata mamaku yang jeli menemukan rokok yang
masih terselip di bokserku dan mengambilanya. “Rokok?”
Mamak pergi ke keluar kamar hendak melapor bapak yang lagi
duduk santai di teras depan rumah. (Maaf percakapan berikut
sebenarnya berbahasa jawa tetapi penulis menterjemahkannya
dengan bahasa yang lebih universal, bahasa Indonesia).
Terdengar dari dalam kamar suara rokok yang di banting
mamak ke atas meja sambil marah-marah dengan nada yang
cukup tinggi. “Pak, Yogi ngerokok!” Dengan nada santai dan
rendah bapak menjawab “Biarlah..” Aku hanya tersenyum geli
membayangkan adegan yang terjadi di teras saat itu. :D

Bagi kalian yang membaca ini dan belum ngrasain yang
namanya rokok, jangan pernah tertarik dengan benda itu
seberapapun kalian penasaran dengan rasanya. Untuk yang
telah terjebak dalam kenikmatannya, aku ngerti banget
perasaan ingin berhenti yang nggak pernah terwujud. Nikmati
saja tanpa penyesalan, nikmati semuanya, nikmati sensasi asap
tebal yang keluar dari hidung dan mulutmu, dan nikmati juga
betapa tersiksanya jadi perokok yang lagi kerisis uang.

Ah, sudahlah... Ini sudah terlalu panjang aku ceritanya. Lagian, aku nggak mampu mengingat hal-hal menarik yang bisa
aku ceritakan pada kalian tentang masa-masa SMA-ku. Kalau
memang adapun, akan ku ceritakan kembali di lain kesempatan
(itupun kalau ada mood).

Dari sekian panjang tulisanku kali ini, hanya dua
pesan yang ingin ku sampaikan, “Nggak perlu disesali,
nikmatilah”. Jangan pernah berharap untuk kembali hidup di
masa lalu, biarkan keindahan yang pernah ada menjadi
kenangan belaka, dan biarkan sebuah kenangan buruk di masa
lalu terlewati sebagai sebuah pelajaran agar kita tidak
menjumpai kehidupan seperti itu lagi di masa depan. Apapun
kondisi kehidupanmu yang sekarang, tetaplah menikmatinya,
semua akan baik-baik saja.

NB: Terima kasih untuk beberapa para pembaca yang setia
membaca ceritaku yang ku kemas tanpa memperhatikan EYD ini. Terima kasih banyak, terima kasih sudah membaca catatanku yang nggak begitu menarik ini.