26 April 2014

Malam Di Malang Episode 3

Rasanya pasti senang kalau punya teman yang klop dengan kita. Ya, di sini aku punya teman yang klop banget, tetap ada waktu senang atau susah, tapi kita lebih banyak senangnya dari pada susahnya. Gimana nggak, susahpun tetap dibawa senang. Parahnya, bukan cuma satu temanku yang seperti itu, tapi hampir semua temanku klop dengan aku.

Kali ini aku pengen share cerita 'malam di Malang' episode tiga. Tiba-tiba episode tiga? Maklum, episode pertama nggak sempat terabadikan dengan kamera, episode dua udah dishare di pesbuk foto-fotonya...

Awalnya kita bertiga, aku, Dwipa sama Alfin cuma tiduran di kamar dari sore sampai malam di kamarku. Akhirnya Alfin yang ngerasa bosan punya ide buat habisin malam minggu ini sambil ngopi ngeleseh di tepi jalan. Ku pikir bukan ide buruk, Dwipa pun setuju dengan itu. Ku pikir dari pada cuma bertiga lebih asik kalau ajak Sulaiman juga.

Ok, berempat capcus ke lesehan taman krida (mungkin itu nama tempatnya) kita ngopi dan main kartu sambil ngobrolin hal-hal yang temanya abstrak. Awalnya aku pikir pengen abadikan momen ini, tapi berhubung tempatnya remang-remang, jadinya gelap. Dengan keinginan yang maksa, jadi aku berfoto ria dengan korek api dan senter hp sebagai flash externalnya.




Bosan main kartu, kita malah berdebat dengan tema 'pengamen'. Di situ aku berpendapat, pengamen adalah salah satu teknologi canggih masa depan yang diciptakan oleh bapak SBY jauh sebelum beliau dilahirkan di dunia. Ya, tanpa perlu koneksi internet kita bisa mendengarkan lagu yang tak kita miliki di ponsel atau gadged kita. Canggihnya lagi, kita tidakmperlu menekan tombol play, stop dan next untuk mengganti atau menghentikan lagu, cukup menggunakan beberapa koin saja. Sedangkan Suleman bilang kecepatan download lagunya melebihi speedy, streamingnya tanpa buffering. Alfin bilang kecepatannya menghabiskan banyak kuota rokok. Pengamen aja bisa bajakin rokok kita (pengamen lewat di belakang Alfin dan Alfin salah tingkah) Dwipa bilang, jangan malu untuk menghina pengamen.

Karena bosan banyak pengamen dan rokok habis dengan cepat, jadi kami pergi sebelum pengamen terakhir berhasil membuat kami menjadi jomblo melarat. Tanpa arah dan tujuan yang jelas kami melintasi jalan Soekarno-hatta dan berhenti di jembatan penyebrangan yang aku sendiri nggak tau itu di mana.

Dwipa kencing dalam kegelapan


Sesaat sebelum ciuman


(Kiri) after - (kanan) before
Klinik tong fang


Terkadang, masa-masa pacaran itu ada aja saat bertengkarnya


Giliran aku yang
Difoto malah begini

Dwipa sendiri yang selengekan

Pemandangan dari atas





Rencananya mau ku tarik
Tapi malah nggak melorot


Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu





Penampakkan


Bloujob

Area parkir khusus pembeli jamu,
lalu putri yang ngekost di situ parkirnya di mana?
Masa' harus beli jamu dulu baru boleh parkir...

Bagi yang lemah syahwat, silahkan...


Ternyata, kita di apit oleh dua tempat peribadatan

Ini waktu aku fotoin dari bawah
Begitu aku ke atas, mereka malahan turun

Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku selpi...

Waktu singgah, nemu ini.
Hayo, siapa yang mau ikut jalan sehat selama satu abad tanpa henti di kota Malang?

Ini anak, kenapa ya?

Kata Sina, ganteng-ganteng kok bodo...

Suleman Kurang kerjaan.

Nengah juga ikutan

ini pada ngapain juga nggak tau deh

Tuh kan, homonya ketangkep kamera

Sok Ganteng





Lagi nggak ada uang dan kelaparan

Untung ada orang dermawan

Tapi karena ngasi uang untuk pengemis, si dermawan jatuh miskin
dan bersatu dengan golongan pengemis

Menjumpai gerobak bakso berkecepatan tinggi

Penyesalan datang "kenapa nggak gua rampok aja ya, itu tukang bakso"