26 April 2014

Kisah dan Perasaan baru

10.11 pagi pada 22 april 2014. Belum lama aku terbangun dari tidurku tapi moodku untuk nulis sesuatu udah muncul. Aku pengen cerita tentang cewek yang sekarang lagi aku taksir. Cewek yang sering buat aku salah fokus.

Namanya Anis Mitaraya, lebih sering di panggil Anis. Anis ini salah satu dari tiga cewek di kelasku. Awalnya sih, Anis bukan anak sistem komputer, tapi anak jurusan teknologi informatika. Anis pindah jurusan pada minggu-minggu pertama kuliah mulai aktif. Dari alasan yang aku tau, dia pindah jurusan karena di jurusannya yang lama nggak ada study tentang jaringan, sedangkan di jurusan sistem komputer study jaringan merupakan satu dari tiga konsentrasi yang nantinya bisa diambil di semester lima.

Kehadiran Anis di kelas SK (sistem komputer) benar-benar menambah warna lain, dimana kita jadi punya tiga koleksi cewek di kelas.  Maklum, spesies cewek di kalangan anak SK itu langka banget.

Awal kedatangan Anis, aku agak sedikit naksir sama dia, tapi karena beberapa hal aku jadi mengurungkan perasaanku yang muncul ini. Salah satunya karena Kiki yang keliatannya naksir dia juga lagi dekat dengan Anis, jadi ku pikir alangkah baiknya aku nggak terlalu fokus ke Anis karena Kiki lagi deketin dia, lagian aku lebih kepengen dekatin Sabrina saat itu. Lambat laun, aku jadi bisa lupain perasaan sekilasku itu ke Anis.

Hingga suatu saat karena berbagai hal, dan diakibatkan banyaknya masalah yang muncul di antara aku dan Sabrina, aku berhenti total untuk mengejar Sabrina. Nah, di sinilah perasaanku yang lama pada Anis muncul lagi. Tepatnya di hari pertama masuk kuliah stelah libur semester kemarin, aku jadi sering memperhatikan Anis. Hari-hari berikutnyapun aku tetap memperhatikan Anis. Awalnya aku coba menyangkal perasaanku sendiri, nggak mungkin aku naksir lagi sama Anis, ini pasti cuma sekedar perasaan kangen karena udah dua bulan nggak ketemu dia.

Tapi yang namanya perasaan, nggak bisa disangkal begitu aja. Ternyata aku memang naksir lagi sama Anis. Tapi naksir sama Anis juga beban buat aku. Aku nggak bisa curhat sama teman, lagian rasanya nggak enak banget, selama ini teman-teman taunya aku suka sama Sabrina, kok malah tiba-tiba suka sama Anis.

Jadi, aku cuma diamin aja perasaanku ini, nggak ada satupun teman yang tau. Di saat-saat yang bersamaan, aku juga lagi akrab banget sama Alfin, teman sekelasku yang lain. Selama di kelas, aku sama Alfin sering banget ngomongin hal-hal yang berbau seks, maklum aku sama Alfin sama-sama otak cabul. Kita berdua sempat ngebahas tentang tetek cewek di kelas tentang seperti apa bentuknya, seberapa ukurannya, montokan punya siapa. Dari obrolan-obrolanku sama Alfin, aku jadi menyadari hal yang selama ini nggak pernah ku perhatikan. Awalnya aku pikir tetek Anis yang paling kecil, ternyata aku salah, punya Anis lah yang sebenarnya paling gede, dan padet. Haha... Kekagumanku ke Anis jadi bertambah, nih.

Sampai sejauh ini teman-teman masih tetap nggak tau kalau aku nyimpan perasaan ke Anis, hingga akhirnya aku, Alfin dan Dwipa main flappy bird, skor terendah akan diintrogasi dan wajib memberi jawaban sejujur-jujurnya. Parahnya lagi, introgasinya malah di rekam. Aku lumayan sering dapat skor yang paling rendah. Disinilah rahasia baruku terbongkar. Alfin sama Dwipa mulai tau tentang perasaanku ke Anis. Aku benar-benar di introgasi, terutama tentang seberapa sukanya aku sama teteknya Anis. Alfin memang punya sejuta ide binal untuk merubah pembicaraan tentang seks menjadi terkesan lucu dan bernuansa komedi.

Parahnya, Dwipa pengen rekaman itu disebar ke teman-teman yang lainnya. Alfin yang awalnya ragu-ragupun jadi antusias untuk mempopulerkannya. Aku sih nggak masalah kalau teman-teman dengarin rekaman itu, mereka pasti ketawa ngakak. Tapi yang aku benar-benar khawatirkan, Anis dengarin rekaman itu, rekaman tentamg introgasi yang berujung pada ungkapan isi hatiku tentang tetek Anis.

Mampus! Dalam waktu dua hari, rekaman tersebar cepat ke teman-teman sekelas termasuk Anis. Siapa yang nggak khawatir coba, kalau cewek yang kita suka tau kalau kita mengagumi teteknya.

Waktu itu, di sela-sela geladiresik acara pemilihan ketua HMJ baru, Anis yang lagi di samping aku malah ketawa-ketawa sendiri. Aku memandangnya dan diapun menoleh kearahku sambil tetap tertawa kecil. "Panca, rekamanmu kok lucu banget sih?" Ucapnya sambil masih tertawa. Aku cuma bisa diam dan sedikit terpelongok mendengar omongannya barusan. Lalu dia pergi berlalu meninggalkanku.

Lucu? Barusan dia ketawa kan? Kok bisa? Dia nggak marah, lho... Malahan, dia kayaknya terhibur banget dengarin rekamanku. Aku jadi bingung sendiri. Ah, biarlah... Yang terpenting dia nggak marah sama aku karena rekaman itu.

Beberapa hari selanjutnya berlalu dengan perasaanku yang semakin bertambah sama Anis, aku juga semakin sering salah fokus waktu lagi ngeliatin dia. Ya, seperti apapun perasaanku ke Anis, aku nggak bisa semudah itu berharap dia balas perasaanku. Karena memang banyak hambatan juga sih kalau pengen bisa dapatin hati dia. Untuk saat ini bisa dianggap teman dan bisa lebih banyak ngobrol sama dia itu udah cukup baik bagiku.