25 April 2014

Di Persimpangan Jalan Ini

Ibarat dinding yang setiap saat selalu terkena rembesan air.
Dan aku selalu mengecat ulang agar selalu perfect. Tapi
seberapa pun aku terus mengulangi hal itu, tetap saja tak akan
pernah ada kesempurnaan yang ku dapat. Dan pada akhirnya,
aku akan menyerah dan berhenti di dalam lelah.
Begitu juga dengan hubungan ini, setelah sekian lama aku
terus menjaga keutuhannya, selalu saja ada kerusakkan yang
terjadi. Hingga akhirnya aku berhenti dan memutuskan semua
ini.
Aku tahu, mungkin semua ini salahku yang selalu berusaha
bertahan hingga selalu menyisakan luka di kedua sisi hati kita.
Mungkin seharusnya telah lama ku akhiri semua ini, tak
seharusnya aku memaksakan mimpi tentang kita.
Tapi saat aku memutuskan untuk menyerah, berkelebat rasa
takut akan kesendirian. Takut akan rasa kecewa dan
penyesalan yang suatu saat bisa menghantui ku dengan sejuta
kenangan. Mengingatkan tentang mimpi-mimpi masa lalu yang
penuh dengan gelora indah.
Kini, aku harus berusaha menghapus satu-persatu ingatanku
tentang masa lalu kita. Mencoba mengubur dengan dalam
semua kenangan manis saat kita bersama. Aku tahu ini sulit
untuk ku. Tapi inilah jalan yang harus kita tempuh sekarang.
Kita akan melangkah ke arah yang berbeda dan tak lagi
beriringan.
Dimana setelah sekian lama kau telah menemani setiap
langkahku. Berada di sampingku melintasi jalan panjang
kehidupan ini. Dan sekarang, aku terhenti di persimpangan ini.
Dimana ku rasakan tak lagi tangan mu menggandeng tanganku.
Saat aku menoleh kebelangkang, yang ku lihat hanya punggung
mu yang kau bawa melangkah menjauh ke arah yang berbeda.
Tak lagi ingin menggenggam erat jemari ku. Tak lagi ingin
menemani langkah-langkahku menuju mimpi kita. Tapi apa
daya, mengejar mu pun aku tak bisa. Kaki ini tak ingin
melangkah berlari mengejar mu.
Di sinilah, di persimpangan ini aku benar-benar terhenti, tak
lagi bisa beranjak pergi ke arah mimpi yang kini telah hilang.
Di persimpangan ini aku hanya bisa melihat ke arah mu yang
bergerak menjauh, dan semakin jauh. Di persimpangan ini pula,
aku bisa melihat ke arah yang lain. Dimana di ujung jalan sana
terlihat sosok lain yang berdiri di ujung jalan, terpaku
melihatku yang terdiam tak kunjung beranjak pergi. Tapi dia
hanya melihat dan tersenyum padaku. Tak kunjung berjalan ke
arahku. Jika dia tidak menghampiri ku, mengapa dia tak
melangkah pergi menjauh? Mengapa dia masih saja terus
melihatku? Diakah seseorang yang suatu saat akan
menggandeng tanganku, menuntun ku melangkah pergi dari
persimpangan ini?
Sungguh, aku sangat berharap dialah seseorang yang akan
menemani langkahku nanti. Menjadi cahaya mata yang
menuntunku ke arah mimpi yang baru. Dimana tak ada lagi
kesedihan yang kurasakan. Menghapus kenangan-kenangan
manis yang telah berlalu, dan mengukir kenangan indah yang
baru.