26 April 2014

Hari yang Tak menarik

Ada banyak hal yang pengen aku ungkapin tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupku, tapi terkadang mengetik tanpa keyboard juga menghalangi mood. Ya, karena berbicara itu susah dan memakan energi, jadi curhat lewat ketikan adalah solusi meskipun belum tentu ada yang tertarik dengan ceritaku.

Seperti biasa aku pengen cerita sedikit tentang kegiatan hari ini. Aku bangun sekitar jam delapan pagi, itupun terpaksa karena temanku yang membangunkan. Rasanya nggak semangat, tapi harus berangkat ke kampus jam sembilan. Jam sembilan aku udah stay di kampus tepatnya di basecamp SK. Waktu berjalan cukup lama tanpa ada yang ku kerjakan, akhirnya aku putuskan untuk tidur. Anehnya, dalam posisi tidur yang nggak nyaman, aku bisa nyenyak bahkan aku sempat mimpi yang aneh-aneh, fullgar banget. Baiklah lupakan itu.

Aku terbangun saat Suleman atau Alfin yang membangunkan, aku juga lupa siapa. Waktu bangun, liat kakak tingkat bawa kardus yang isinya nasi bungkus. Sip deh, kita makan siang. Waktu lagi asik makan rame-rame, om Hafsah yang nggak tau kita lagi makan, dia datang menenteng kardus yang berisi nasi bungkus. Waduh, tumben kita punya banyak makanan.

Aku selesai makan dan lekas cuci tangan. Sekembalinya ke basecamp aku ngeliat Alfin makan lagi padahal dia tadi udah makan sebungkus. Aku jadi tergiur, berhubung makanannya berlebih, aku makan aja lagi. Gilak, yang pertama aja nasinya banyak, tapi yang kedua bisa ku habiskan.

Akhirnya dalam posisi perut yang kepenuhan, aku dan teman-teman pergi ke lab otomasi untuk rapat yang membahas tentang acara yang akan kita adakan nanti. Aku yang awalnya seksi konsumsi akhirnya dirolling dengan Anggi. Aku jadi seksi perlenglapan kalau nggak salah, lupa soalnya aku kurang perduli juga. Intinya, secara nggak langsung aku jadi anak buahnya Alfin. Ya biar Alfin kerjanya nggak terlalu berat, banyak yang harus dia desain, jadi aku disuruh bantuin dia.

Ada satu hal yang bikin aku nggak konsen dengan rapat tadi. Tumben-tumben dia buka jaket, montoknya badan dia jadi keliatan jelas. Behh.... bohai, cuk.... Aku jadi salah fokus terus...
Lupakan tentang yang terlalu fullgar itu. Sekarang aku udah di kost. Rencananya nggak pengen tidur tapi ngantuk, kebetulan ada Alfin datang jadi aku bisa sedikit menahan rasa ngantukku. Tapi lama kelamaan si Alfin malah tidur, aku jadi pengen tidur juga. Tapi takdir berkata lain, kamarku jadi tambah sempit. Si Nengah habisin banyak tempat dan Ada tambahan pengungsi bernama Alfin. Alhasil, aku yang di tengah malah kegempet sama mereka berdua. Ngantukku jadi hilang, biarkan saja rakyat jelata ini menikmati istirahatnya setelah dua hari dua malam bekerja keras tak kenal tidur. Jadi aku tidak ingin mengganggunya. Oyasumi teman-temanku yang bermuka jelek. Semoga mimpiin pasangan homo kalian... :*

Nengah/Dwipa dan Alfin